Kantamedia.com – Harga emas global mengalami penurunan tajam hingga 24,7% dari rekor tertingginya, dan kini berada di level sekitar US$ 4.264. Penurunan ini mengejutkan pelaku pasar, terutama karena terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Meski volatilitas pasar sedang tinggi, sejumlah lembaga keuangan global masih optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang. Salah satunya JPMorgan Chase, yang memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 5.400 pada akhir 2026.
Dampak Konflik Iran terhadap Pasar
Tekanan terhadap harga emas dipicu efek domino dari konflik yang melibatkan Iran. Serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026 mendorong lonjakan harga minyak mentah Brent Crude Oil hingga menyentuh US$ 100 per barel.
Kenaikan harga energi memicu inflasi global, sehingga Federal Reserve memilih menahan suku bunga acuan lebih lama. Kondisi ini membuat biaya oportunitas memegang emas meningkat karena investor cenderung beralih ke aset berbunga.
Lima Faktor Tekan Harga Emas
Para analis mencatat setidaknya lima mekanisme utama yang menekan harga emas saat ini:
- Suku bunga tinggi lebih lama akibat kebijakan moneter ketat.
- Penguatan dolar AS yang membuat emas lebih mahal bagi investor global.
- Forced liquidation di pasar futures ketika investor menutup posisi untuk memenuhi margin.
- Konversi sementara ke kas guna menjaga likuiditas di tengah volatilitas pasar.
- Aksi profit taking institusional setelah reli panjang harga emas.
Wall Street Tetap Optimistis
Meski harga terkoreksi, sejumlah institusi finansial global tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap emas. Bank-bank besar seperti Wells Fargo, BNP Paribas, dan Goldman Sachs bahkan memperkirakan harga emas dapat mencapai US$ 5.400 hingga US$ 6.300 pada akhir 2026.
Head of Global Commodities Research di JPMorgan Chase, Natasha Kaneva, menilai reli emas memang tidak akan berlangsung secara linear, namun tren kenaikan jangka panjang masih kuat. Hingga kini, belum ada lembaga besar yang memprediksi bear market struktural pada emas.
Koreksi Jadi Peluang Akumulasi
Tim riset Pluang menilai koreksi besar saat ini justru membuka peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi. Dengan harga yang lebih rendah, emas dinilai memiliki potensi kenaikan 12–27% dalam jangka menengah.
Fundamental emas juga dinilai tetap solid, terutama karena pembelian emas oleh bank sentral global dan tren dedolarisasi yang semakin menguat di berbagai negara.
Menurut Head of Research Pluang, Jason Gozali, investor kini memiliki banyak pilihan instrumen untuk berinvestasi emas tanpa harus menyimpan logam mulia secara fisik.
Beberapa instrumen yang tersedia di pasar antara lain PAX Gold, Tether Gold, serta ETF emas seperti SPDR Gold Shares. Selain itu, emas digital juga semakin populer karena memanfaatkan teknologi blockchain dan memudahkan investor mengakses pasar emas secara praktis.
Dengan kombinasi inovasi teknologi dan tren ekonomi global, emas diperkirakan tetap menjadi aset lindung nilai utama bagi investor di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. (Mhu).


