Mayoritas Warga AS Tolak Serangan ke Iran, Trump: Saya Tak Peduli

Kantamedia.com – Sebuah jajak pendapat yang dilakukan Reuters/Ipsos, hanya 27 persen warga Amerika Serikat (AS) yang menyetujui serangan terhadap Iran. Sedangkan 43 persen tidak setuju, dan 29 persen tidak yakin.

Sementara, jajak pendapat CNN/SSRS menunjukkan, 59 persen tak setuju AS serang Iran dan 41 persen warga menyetujuinya.

Sebagai perbandingan, 44 persen warga menyetujui Operasi Midnight Hammer untuk menghancurkan tiga situs nuklir Iran pada Juni lalu dan 56 persen tidak menyetujuinya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons jajak pendapat yang mengungkapkan mayoritas warga AS menolak serangan Iran.

Meski jajak pendapat menyatakan banyak warga tak setuju, Trump bersikeras bahwa tindakannya untuk menyerang Iran adalah hal yang benar.

Baca juga:  Iran Hukum Tegas Pemerkosa, Dieksekusi Mati di Depan Publik

“Saya pikir hasil jajak pendapatnya sangat bagus, tetapi saya tidak peduli dengan jajak pendapat,” ujarnya, dikutip dari New York Post.

“Saya harus melakukan hal yang benar. Ini seharusnya sudah dilakukan sejak lama,” sambungnya.

Terlepas dari angka jajak pendapat itu, ia mengatakan AS tak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

“Saya rasa orang-orang sangat terkesan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Saya rasa ini adalah suara diam dan ini seperti mayoritas yang diam,” jelas dia.

Sedikitnya empat anggota militer AS tewas setelah serangan balasan Iran terhadap pusat operasi AS di Kuwait.

Donald Trump menuturkan, pihaknya juga tidak mengesampingkan kemungkinan mengirim pasukan darat AS ke Iran, jika diperlukan.

Baca juga:  Dikritik Paus Leo XIV, Donald Trump: Saya Tidak Membutuhkan Paus

“Saya mengatakan ‘mungkin tidak membutuhkannya,’ (atau) ‘jika memang diperlukan’,” kata Trump.

Sementara, Menteri Perang Pete Hegseth dalam konferensi pers Pentagon pada Senin (2/3/2026) mengatakan, saat ini tidak ada pasukan AS yang berada di dalam Iran.

Sama seperti Donald Trump, ia juga tidak mengesampingkan kemungkinan tersebut. “Presiden Trump memastikan musuh-musuh kita memahami bahwa kita akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memajukan kepentingan AS. Tapi kita tidak bodoh dalam hal ini,” kata Hegseth kepada wartawan.

“Anda tidak perlu mengerahkan 200.000 orang ke sana dan tinggal selama 20 tahun,” lanjutnya. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *