Kantamedia.com – Pada awal perdagangan Rabu (21/1/2026), Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,15 persen ke level Rp16.920 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup melemah tipis 0,06 persen di Rp16.945 per dolar AS—level penutupan terlemah sepanjang sejarah.
Sejalan dengan itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB berada di zona koreksi, turun 0,15 persen ke level 98,498, setelah pada perdagangan sebelumnya melemah hingga 0,76 persen.
Penguatan rupiah hari ini dipengaruhi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan siang ini. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 16–17 Desember 2025, BI mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen, dengan deposit facility 3,75 persen dan lending facility 5,50 persen. Konsensus 13 lembaga memperkirakan BI kembali menahan suku bunga pada RDG Januari 2026.
Dari eksternal, pelemahan dolar AS memberi ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dolar tertekan setelah kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland memicu aksi jual di pasar saham dan obligasi pemerintah AS.
Situasi tersebut kembali menghidupkan sentimen “Sell America”, di mana investor mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi dolar AS di tengah ketidakpastian kebijakan, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta percepatan tren de-dolarisasi global. (Mhu).



