Hati-hati, Habis Tabungan Terbitlah Utang Usai Lebaran

Kantamedia.com – Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat (ANH), menilai ada semacam “ritual tahunan” menjelang Lebaran: masyarakat justru harus menghadapi tekanan ekonomi yang meningkat. Salah satu yang paling terasa adalah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

Padahal pemerintah berulang kali menggulirkan berbagai kebijakan seperti program diskon, bantuan sosial (bansos), hingga operasi pasar murah yang nilainya tidak kecil.

“Fenomena yang selalu berulang ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi rumah tangga di Indonesia masih rentan ketika berhadapan dengan lonjakan harga barang, biaya mobilitas yang meningkat, tekanan nilai tukar, serta sistem perlindungan sosial yang belum sepenuhnya tepat sasaran,” ujar Achmad Nur di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).

Menurutnya, Lebaran semestinya menjadi momentum untuk pulang kampung, berbagi kebahagiaan, dan memulihkan hubungan batin dengan keluarga. Namun pada 2026, banyak keluarga justru merasa memasuki masa yang penuh tekanan.

Data menunjukkan inflasi tahunan pada Februari 2026 mencapai 4,76 persen, angka yang berada di atas target inflasi Bank Indonesia (BI).

Di sisi lain, nilai tukar rupiah berdasarkan kurs JISDOR pada 10 Maret 2026 tercatat menyentuh Rp16.879 per dolar AS. Kedua indikator tersebut memberi gambaran bahwa biaya hidup tengah meningkat, sementara kemampuan ekonomi rumah tangga justru semakin menipis.

Achmad Nur menilai persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya soal satu komoditas yang naik harga atau satu layanan yang menjadi mahal. Yang terjadi adalah akumulasi tekanan ekonomi dari berbagai sisi yang muncul secara bersamaan.

Harga pangan meningkat, biaya mudik masih terasa berat, nilai THR berkurang karena potongan pajak, distribusi bansos masih belum sepenuhnya tepat sasaran, dan kelas menengah semakin sering mengandalkan pinjaman jangka pendek untuk menutup kebutuhan.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti rumah yang mengalami kebocoran di banyak bagian atapnya. Jika hanya satu dua titik yang bocor, ember mungkin masih bisa menampung air. Namun ketika air menetes dari berbagai sisi sekaligus, situasinya berubah menjadi kepanikan.

Di sisi lain, pemerintah memang telah mengumumkan sejumlah kebijakan diskon transportasi menjelang musim mudik. Misalnya, tiket pesawat kelas ekonomi domestik mendapat potongan sekitar 17–18 persen untuk periode 14 hingga 29 Maret 2026 dengan target sekitar 3,3 juta penumpang.

Selain itu, pemerintah juga menerapkan diskon tarif tol sebesar 30 persen di 29 ruas tol utama yang berada di Pulau Jawa dan Sumatera. Kebijakan ini berlaku pada 15–16 Maret untuk arus mudik serta 26–27 Maret untuk arus balik.

Beberapa ruas tol yang masuk dalam program ini antara lain Jakarta–Cikampek, MBZ, Cipularang, Padaleunyi, hingga Bakauheni–Terbanggi Besar, Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi, dan Sigli–Banda Aceh Seksi 2 sampai 6.

Secara kebijakan, langkah tersebut terlihat progresif. Namun dalam praktiknya, manfaat yang dirasakan masyarakat dinilai masih terbatas. Diskon memang ada, tetapi waktunya sangat sempit.

Kebijakan seperti ini lebih mudah dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki fleksibilitas waktu, kemampuan finansial yang cukup, serta akses informasi yang memadai untuk membeli tiket pada periode tertentu.

Sementara itu, buruh pabrik, pegawai ritel, pekerja harian, sopir, dan berbagai profesi lain yang terikat jadwal kerja tidak selalu memiliki keleluasaan memilih tanggal perjalanan.

Karena itu, menurut Achmad Nur, diskon sering kali lebih terasa sebagai pengumuman kebijakan yang baik di atas panggung, ketimbang benar-benar meringankan beban masyarakat secara luas.

Ia menilai mudik tahun 2026 terasa seperti perjalanan nostalgia yang semakin mahal. Walaupun sebagian biaya diturunkan melalui diskon, total pengeluaran yang harus ditanggung keluarga masih tetap besar.

Tarif tol mungkin lebih murah pada hari tertentu, tetapi biaya lain seperti makan selama perjalanan, bahan bakar, transportasi lanjutan, hingga harga kebutuhan di kampung halaman tetap mengalami kenaikan.

“Diskon yang terlalu terbatas pada akhirnya hanya seperti payung kecil di tengah hujan deras. Payung itu memang ada, tetapi tidak cukup untuk melindungi semua orang,” tutupnya.(*/pri)

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *