Contoh Penerapan PPh 21 dan PPh 23
Contoh kasus PPh 21
PT AAA membayar gaji bulanan kepada karyawan tetap sebesar Rp10 juta. Atas penghasilan tersebut, perusahaan wajib menghitung dan memotong PPh 21 sesuai tarif progresif setelah dikurangi PTKP.
Dalam kasus ini:
- Penerima penghasilan adalah orang pribadi
- Penghasilan berasal dari hubungan kerja
- Pajak yang dipotong adalah PPh Pasal 21
Contoh kasus PPh 23
PT AAA juga menggunakan jasa konsultan pemasaran dari PT BBB dengan nilai kontrak Rp50 juta. Atas pembayaran jasa tersebut, PT AAA wajib memotong PPh 23 sebesar 2% dari nilai bruto.
Dalam kasus ini:
- Transaksi terjadi antar badan usaha
- Penghasilan berasar dari jasa tertentu
- Pajak yang dipotong adalah PPh Pasal 23

Kesimpulannya, PPh 21 dan PPh 23 sama-sama merupakan pajak penghasilan yang dipotong oleh pihak pemberi penghasilan, namun keduanya memiliki perbedaan mendasar dari sisi subjek, objek, serta cara pengenaan pajaknya.
PPh 21 berkaitan dengan penghasilan orang pribadi atas pekerjaan, sedangkan PPh 23 muncul dari transaksi jasa dan penggunaan modal. Karena itu, perlakuan administrasi dan tarif pajaknya tidak sama.
Dengan memahami perbedaan tersebut serta mengikuti ketentuan terbaru, wajib pajak dapat mengelola kewajiban perpajakan secara lebih tepat dan terhindar dari kesalahan administrasi. (*/pri)



