Kantamedia.com – Virus Nipah, penyakit zoonosis mematikan dengan tingkat kematian tinggi dan belum memiliki pengobatan yang disetujui, kembali membunyikan alarm global. Virus ini menular dari hewan ke manusia, terutama melalui kelelawar buah dan babi, serta dapat menyebabkan infeksi berat pada manusia.
Meski penularan antarmanusia relatif terbatas, wabah Nipah dikenal sangat berbahaya karena memicu gangguan pernapasan akut dan ensefalitis (radang otak). Sejumlah negara di Asia, seperti Nepal, Thailand, dan termasuk Indonesia juga telah waspada dan memperketat pengawasan di bandara-bandara internasional.
Di Kerala, India selatan, otoritas kesehatan mengonfirmasi dua kasus baru virus Nipah. Korban pertama adalah seorang remaja perempuan berusia 18 tahun yang meninggal dunia setelah mengalami ensefalitis. Sementara itu, seorang perempuan berusia 38 tahun masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Sebanyak 499 kontak erat telah diidentifikasi dan dipantau secara ketat. Dari jumlah tersebut, 14 orang memerlukan perawatan di rumah sakit. Seiring menurunnya risiko awal, pembatasan di beberapa wilayah seperti Malappuram mulai dicabut, meskipun status kewaspadaan tetap diberlakukan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menegaskan posisi virus Nipah sebagai ancaman serius. “Virus Nipah adalah penyakit prioritas bagi WHO karena potensi epidemiknya dan belum adanya pengobatan yang disetujui,” demikian peringatan WHO.
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Tingkat kematian akibat virus Nipah tercatat sangat tinggi, yakni antara 40 hingga 75 persen, menjadikannya salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia.
Dalam upaya pencegahan, vaksin eksperimental ChAdOx1 NipahB yang dikembangkan oleh Universitas Oxford, berbasis platform vaksin COVID-19, telah memasuki uji klinis fase I pada manusia melalui program PRIME EMA.
Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan nanobodi berbasis alpaka memberikan hasil menjanjikan dalam studi praklinis. Pendekatan ini berpotensi menjadi terapi baru tidak hanya untuk Nipah, tetapi juga virus sekeluarga seperti Hendra.
Meski nilai angka reproduksi dasar (R0) virus Nipah tergolong rendah, para ahli mengingatkan bahwa potensi evolusi virus dan tingkat kematian yang ekstrem membuat ancaman ini tidak boleh diremehkan.
Langkah-langkah pengendalian di Kerala meliputi isolasi kontak, penutupan sementara sekolah, kampanye kebersihan, serta pelacakan sumber wabah, yang diduga berasal dari buah-buahan yang terkontaminasi air liur atau urin kelelawar.
Kemunculan kembali virus Nipah menjadi pengingat keras bahwa pencegahan dan pengawasan penyakit zoonosis bukan pilihan, melainkan keharusan. Meski kemajuan ilmu pengetahuan terus berjalan, ancaman wabah dengan dampak besar masih nyata dan menuntut kesiapsiagaan global.



