Bagian Operasional PO Logos, Rigen, menjelaskan bahwa untuk layanan AKAP, PO Logos melayani rute reguler Banjarmasin–Palangka Raya–Pangkalan Bun setiap hari. Sementara pada skema AKDP, perusahaan mengoperasikan trayek Palangka Raya–Pangkalan Bun dengan jadwal harian.
“Saat ini kami menjalankan dua pola layanan tersebut secara paralel, menyesuaikan regulasi dan kebutuhan penumpang,” katanya, Selasa (13/1/2026).
Dari sisi jadwal, PO Logos menyediakan empat waktu keberangkatan untuk AKDP, yakni pukul 08.00 dan 15.30 WIB untuk kelas AC bisnis, serta pukul 17.00 dan 19.00 WIB untuk layanan sleeper. Adapun rute AKAP ke Banjarmasin dilayani dua kali sehari, dengan keberangkatan dari Banjarmasin pada pukul 10.00 dan 12.00 WITA, serta dari Pangkalan Bun menuju Banjarmasin pada pukul 03.00 dan 05.00 WIB.
Rigen mengungkapkan bahwa armada AKAP dan AKDP dibedakan sesuai ketentuan perizinan dan kartu pengawas. Ke depan, PO Logos menargetkan seluruh armadanya masuk skema AKAP, sehingga pola layanan akan berbasis transit.
“Slot trayek sudah kami dapatkan. Jika proses perizinan rampung, rute tidak menutup kemungkinan diperpanjang hingga Kalimantan Barat, bahkan sampai Pontianak,” ucapnya.
Saat ini, PO Logos mengoperasikan tiga kategori armada: delapan unit AC bisnis, lima unit sleeper Suite Family, serta dua unit Grand Suite yang dikhususkan untuk perjalanan malam. Dari sisi tarif, perusahaan mengikuti ketentuan standar provinsi untuk kelas AC bisnis, sementara kelas sleeper dan Grand Suite ditawarkan sebagai opsi layanan premium dengan rentang harga yang disesuaikan jarak tempuh.
Untuk kemudahan akses, pemesanan tiket dapat dilakukan melalui loket resmi di pool masing-masing daerah, aplikasi internal Logos, serta platform pihak ketiga seperti RedBus dan Traveloka. PO Logos juga menyiapkan skema antisipasi bila terjadi kendala eksternal, mulai dari penyediaan armada pengganti hingga konsumsi bagi penumpang jika terjadi antrean atau transit di lapangan.
Terkait periode puncak seperti Natal dan Tahun Baru, PO Logos mengakui adanya penyesuaian tarif sekitar 20 persen akibat lonjakan permintaan, namun bersifat sementara dan telah kembali normal.
“Penyesuaian hanya berlangsung singkat dan tetap mempertimbangkan daya beli penumpang,” tutup Rigen. (*/daw)



