Kementan Dorong Integrasi Sapi-Sawit Kurangi Impor Daging

Palangka Raya, Kantamedia.com – Ketergantungan Indonesia terhadap impor daging masih tergolong tinggi. Saat ini, sekitar 52 persen kebutuhan daging nasional masih dipenuhi dari luar negeri. Kondisi ini mendorong pemerintah mempercepat pengembangan peternakan domestik melalui berbagai skema, termasuk Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA).

Hal tersebut disampaikan Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Tri Melasari, saat diwawancarai di Aula Jayang Tingang, Palangka Raya, Selasa (16/12/2025). “Kalau konsumsi daging kita masih impor 52 persen, berarti kita harus meningkatkan populasi sapi,” ujarnya.

Tri Melasari menjelaskan, salah satu kendala utama pengembangan peternakan adalah keterbatasan lahan. Sementara itu, Indonesia memiliki sekitar 16,3 juta hektare lahan sawit yang berpotensi diintegrasikan dengan peternakan sapi. “Lahan sawit tersedia, limbah sawit juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak,” katanya.

Menurutnya, integrasi ini menciptakan hubungan timbal balik. Limbah sawit dimanfaatkan sebagai pakan sapi, sementara kotoran sapi menjadi pupuk organik bagi tanaman sawit.

Tri Melasari menyebutkan, secara nasional sudah terdapat 17 perusahaan yang menjalankan integrasi sapi dan sawit, termasuk di Kalimantan. “Di Kalimantan ada PT Sulung Ranch yang sudah menjalankan kemitraan,” ujarnya.

Ia menegaskan, jika perusahaan-perusahaan sawit mau berkontribusi memelihara sapi di sebagian lahannya, maka populasi ternak nasional akan meningkat signifikan dan ketergantungan impor bisa ditekan.

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *