Negara Ini Larang Umat Islam Lakukan Kurban saat Iduladha

Kantamedia.com – Negara Kerajaan Maroko yang penduduknya mayoritas Muslim telah melarang rakyat mereka melakukan kurban saat Iduladha. Hal tersebut sesuai arahan kerajaan di tengah kesulitan ekonomi yang semakin dalam dan krisis pertanian.

Tahun ini, Maroko menutup pasar ternak menjelang Iduladha di tengah perintah kerajaan untuk tidak melakukan kurban dan melestarikan ternak yang kritis di negara tersebut dalam menghadapi kekeringan.

Pada bulan Februari lalu, Raja Mohammed VI, yang juga bergelar Panglima Umat Beriman, meminta warga Maroko untuk menangguhkan kurban tahunan dengan alasan kebutuhan lingkungan.

Raja Mohammed VI mengumumkan melalui surat yang dibacakan menteri urusan Islam bahwa keluarga harus “menjauhkan diri” dari penyembelihan domba tahun ini dan raja akan melaksanakan kurban Iduladha atas nama rakyat.

“Melaksanakannya dalam keadaan sulit ini akan menyebabkan kerugian nyata bagi banyak rakyat kita, terutama mereka yang berpenghasilan terbatas,” bunyi surat itu.

Itu adalah intervensi kerajaan yang langka. Namun ternyata hal ini bukan yang pertama kalinya terjadi di Maroko.

Sebelumnya, ayah Raja Mohammed VI, almarhum Raja Hassan II setelah Perang Pasir tahun 1963 dengan negara tetangga Aljazair, menangguhkan kurban tiga kali selama pemerintahannya: selama masa perang, kekeringan, dan di bawah penghematan yang diberlakukan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memaksa Maroko untuk mencabut subsidi pangan.

Didukung Masyarakat

Banyak warga Maroko tampaknya menganggap keputusan raja sebagai tindakan yang bijaksana

Fatima, yang menjalankan bisnis binatu di Rabat, berbicara tentang beban emosional dan finansial bagi mereka yang tidak mampu membeli domba.

“Ini bukan situasi yang normal bagi Maroko, saya tahu banyak keluarga yang tidak dapat membeli domba tahun ini,” papar dia kepada MEE, menggambarkan perasaan itu sebagai sesuatu yang “sangat tidak manusiawi bagi keluarga-keluarga ini”.

Baginya, pernyataan raja mengisyaratkan kepemimpinan yang kuat. “Kata-kata raja menunjukkan ia merenungkan masalah di Maroko dan bertindak, ia menunjukkan nilai-nilai Islam sejati dalam praktik dengan meringankan tekanan pada orang-orang dan memikirkan mereka yang kurang beruntung. Ini adalah hal yang indah,” ungkap dia.

Biasanya, sebulan atau bahkan lebih menjelang Iduladha, papan-papan besar berjejer di lorong-lorong supermarket yang mengiklankan berbagai kebutuhan untuk perayaan tersebut, termasuk pisau tajam, panggangan, dan tusuk daging untuk barbekyu.

Abdelali, dari provinsi pedesaan Benslimane, menyoroti pengurangan yang signifikan dalam pemasaran dan peralatan terkait Iduladha menjelang acara tahun ini.

“Saya sedang berada di jaringan supermarket Marjane sekarang. Peralatan Iduladha hampir tidak dipajang, ruangnya sangat terbatas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan pemasarannya sangat rahasia, jika tidak bisa dikatakan tidak ada,” papar dia kepada MEE.

Dia menambahkan, “Jika Anda tidak tahu lebih baik, Anda tidak akan mengira Iduladha sudah dekat.” Menurut Abdelali, “Menentang keinginan raja untuk tidak melakukan kurban Iduladha akan menyebabkan kemarahan yang lebih besar di kalangan masyarakat.”

“Doa-doa akan tetap dilakukan, keluarga-keluarga akan tetap bersatu, hanya bilahnya yang akan tetap bersih,” papar dia.

Alami Kritis Ternak dan Kekeringan

Setelah enam tahun kekeringan, pendapatan pertanian anjlok, yang memaksa banyak keluarga menjual ternak untuk memenuhi kebutuhan. Hasilnya, jumlah ternak nasional menyusut ke tingkat yang belum pernah terlihat sejak tahun 1970-an, saat populasi Maroko kira-kira setengah dari jumlah saat ini.

Menurut LSM lokal Nechfate, 35 persen keluarga Maroko yang terlibat dalam pertanian subsisten bergantung pada penggembalaan hewan sebagai pendapatan utama mereka.

“Bagi mereka, ternak seperti asuransi”, kata kelompok itu. “Mereka menjual hewan ketika mereka membutuhkan uang tunai,” lanjut kelompok tersebut.

Meskipun larangan kurban tersebut diharapkan dapat mendorong keberlanjutan jangka panjang, dampak ekonomi jangka pendeknya cukup signifikan. Dengan penjualan domba yang kini ilegal pada minggu-minggu menjelang Iduladha, pemerintah setempat telah menutup pasar ternak mingguan dan kios-kios dadakan di seluruh negeri.

Di Rabat, Kementerian Dalam Negeri telah menangguhkan semua perdagangan ternak musiman dan melarang penjualan perlengkapan terkait, yang berdampak buruk bagi para perajin dan pekerja informal yang bergantung pada ekonomi Iduladha.

“Kami sudah berjuang dengan tingginya biaya pakan ternak, yang telah kami investasikan secara besar-besaran,” kata Mourad Soussi, seorang penggembala di Azrou, sebuah kota kecil di Maroko bagian tengah, kepada The New Arab (TNA).

Bulan lalu, pemerintah meluncurkan rencana bantuan senilai 6,2 miliar dirham, termasuk subsidi untuk pakan ternak dan keringanan utang sebagian untuk para penggembala. (*)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *