“Suara-Suara Bisu Perempuan” Ungkap Derita Perempuan Adat Akibat Ekspansi Sawit di Kalimantan Tengah

Palangka Raya, kantamedia.com – Diskusi daring peluncuran buku “Suara-Suara Bisu Perempuan” yang digelar pada Jumat (25/7/2025), mengungkap dampak serius ekspansi industri sawit terhadap ruang hidup dan peran sosial perempuan adat di Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Seruyan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Masyarakat Kehutanan Lestari (YMKL) bersama Kalteng Progress.

Diskusi menghadirkan penulis buku sekaligus aktivis lingkungan, M. Yasir, akademisi dari Universitas Palangka Raya Yuliana, serta Endang, perempuan adat dari Tanjung Hanau, dan dimoderatori oleh Suari Rosa dari Kalteng Progress.

Dalam pemaparannya, M. Yasir menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan hasil riset lapangan yang dikemas dalam bentuk novel untuk menyampaikan kisah-kisah nyata perempuan terdampak industri sawit secara lebih menyentuh dan reflektif.

Ia menekankan bahwa “bisu” dalam judul bukan berarti tidak bersuara, melainkan simbol dari ketertekanan dan trauma yang membuat perempuan memilih diam di tengah ketimpangan struktural dan sosial.

“Buku ini adalah ruang bagi suara-suara yang selama ini dibungkam, agar dapat kembali terdengar dan diperhitungkan dalam perdebatan publik,” ujar Yasir.

Yuliana, dosen Sosiologi FISIP UPR, menyambut buku ini sebagai karya penting yang menjembatani persoalan gender, lingkungan, dan kekuasaan. Ia menyoroti bagaimana dominasi industri sawit telah menghilangkan kedaulatan perempuan atas tanah dan sumber daya, serta merekomendasikan buku ini sebagai bahan kajian akademis dan advokasi.

“Ini bukan sekadar karya sastra, melainkan catatan penting untuk keadilan ekologis dan gender,” tegasnya.

Sementara itu, Endang, perempuan adat asal Tanjung Hanau, mengisahkan perubahan drastis di desanya sejak masuknya perkebunan sawit. Hutan yang dulu menjadi sumber pangan, obat, dan nilai-nilai budaya, kini digantikan barisan kelapa sawit yang dibatasi pagar dan kontrol perusahaan. Perempuan, kata Endang, menjadi kelompok paling terdampak karena kehilangan akses terhadap sumber hidup dan pengetahuan turun-temurun.

“Pembangunan yang tidak mempertimbangkan keberlangsungan ruang hidup perempuan adat justru merusak tatanan sosial dan budaya yang sudah ada sejak lama,” ungkapnya.

Diskusi ini dipandu oleh Suari Rosa dari Kalteng Progress, yang mendorong agar pembahasan buku tidak berhenti di forum ini saja. Ia menilai penting adanya kelanjutan diskusi di berbagai ruang untuk memperkuat solidaritas dan gerakan kolektif perempuan adat serta buruh sawit.

“Buku ini harus dimanfaatkan sebagai bahan kajian, pendidikan, dan advokasi agar perjuangan perempuan tidak lagi dibungkam,” tutupnya.

Diskusi ini menandai pentingnya mendengar kembali suara-suara perempuan dari akar rumput yang selama ini terpinggirkan dalam narasi pembangunan nasional. (rik)

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *