Kantamedia.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa fermentasi kedelai menjadi tempe tidak hanya menghasilkan pangan bergizi, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi kesehatan dan ketahanan pangan bangsa. Selain itu, tempe dinilai sejalan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena mudah diperoleh, murah, dan kaya nutrisi.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, mengungkapkan tempe memiliki sifat antidiare, antidiabetik, antihipertensi, antikanker, antioksidan hingga antibakteri.
“Ini penting bagi pengembangan pangan fungsional yang mendukung kesehatan masyarakat,” ujarnya dalam webinar NgajiTekProP Seri #23, Minggu (30/11/2025).
Pada kesempatan yang sama, Kepala PRTPP BRIN Satriyo Krido Wahono menyampaikan bahwa tempe telah ditetapkan sebagai kandidat komoditas utama superfood dalam platform riset Riset Invitasi BRIN tahun mendatang. Menurutnya, potensi riset tempe sangat besar karena Indonesia memiliki biodiversitas luas yang menyediakan banyak pilihan sumber protein untuk menghasilkan tempe.
“Tempe ini menjadi salah satu superfood Indonesia yang akan kami eksplorasi lebih jauh. Riset harus mengarah pada functional food dan superfood berbasis biodiversitas Indonesia untuk mendukung ketahanan pangan dan kesehatan,” tegas Satriyo.
Sementara itu, periset PRTPP BRIN Andri Frediansyah menjelaskan peran mikroba dan teknologi bioproses dalam meningkatkan kandungan isoflavone aglycone—senyawa isoflavon yang lebih mudah diserap tubuh.
“Isoflavon awalnya berbentuk glikosida, dan melalui fermentasi oleh kapang Rhizopus maupun bakteri, senyawa tersebut dikonversi menjadi bentuk aglikon seperti daidzein dan genistein,” terangnya.
Isoflavone aglycone disebut lebih bioaktif dan diserap tubuh hanya dalam waktu sekitar dua jam, jauh lebih cepat dibanding bentuk glikosida yang membutuhkan hingga empat jam. Sejumlah teknologi yang mampu memicu konversi tersebut antara lain ko-fermentasi, germinasi, ultrasound, high pressure processing, hingga pulsed electric field.
BRIN berharap riset berkelanjutan dapat membawa tempe naik kelas, tidak sekadar sebagai pangan tradisional, tetapi sebagai superfood global yang berkontribusi pada kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. (*Mhu).



