Jelang Muktamar, Diprediksi 6 Calon Ketum dan Rais Aam PBNU Bersaing

Kantamedia.com – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 dijadwalkan baru akan dilaksanakan pada 1-5 Agustus 2026 mendatang. Namun dinamika pemilihan tampuk kepemimpinan di PBNU mulai menjadi perhatian nasional.

Dalam pandangan Tokoh muda NU HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau biasa disapa Gus Lilur, ada 6 poros kekuatan yang bakal bertarung pada Muktamar NU nanti. Keenam poros tersebut sudah mengantongi suara peserta Muktamar.

Poros kekuatan pertama, adalah calon Ketua Umum petahana, Yahya Cholil Staquf. Pada posisi saat ini, ia sedang mencari pasangan untuk posisi Rais Aam yang dapat memperkuat basis dukungan sekaligus memperluas legitimasi.

Kedua, Rais Aam petahana, Miftachul Akhyar yang berada dalam konfigurasi bersama Sekretaris Jenderal petahana, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Pada tahap ini, keduanya tengah mencari figur yang akan diusung sebagai calon ketua umum.

Ketiga, muncul figur yang disokong oleh kekuatan penguasa, yakni Menteri Agama Nazaruddin Umar. Saat ini ia dalam proses mencari pasangan untuk posisi Rais Aam. Keempat, terdapat poros yang disokong oleh jaringan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan IKA PMII (Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

“Dalam kelompok PKB dan IKA PMII) masih berlangsung kontestasi internal di antara sejumlah nama, yaitu KH. Abdussalam Shohib, KH. Yusuf Chudhori, KH. Imam Jazuli, dan KH. Abdul Ghoffar Rozin. Namun satu hal yang relatif sudah mengerucut adalah pengusungan KH. Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam,” kata Gus Lilur.

Kelima, kekuatan yang disokong oleh jejaring PWNU Jawa Timur, yang mendorong figur KH Abdul Hakim Mahfuz. Pada posisi saat ini, poros ini masih dalam tahap mencari pasangan untuk posisi Rais Aam.

Keenam, muncul pula calon alternatif yang juga berakar pada jejaring NU Jawa Timur, yaitu KH Marzuki Mustamar. Berbeda dengan poros sebelumnya, konfigurasi ini sudah lebih jelas dengan memastikan dukungan kepada Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam.

Jaringan petahana Ketua Umum Gus Yahya, kata Gus Lilur, diperkirakan menguasai sekitar 20% suara, atau sekitar 100 suara. Lalu, Rais Aam petahana bersama Sekjen petahana juga memiliki basis sekitar 100 suara. Di luar itu, terdapat sekitar 70-80 suara yang masih mengambang

“Secara garis besar, jaringan PKB–IKA PMII diperkirakan memiliki sekitar 250 suara secara nasional. Sementara itu, jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama memiliki sekitar 130 suara,” ujar Gus Lilur kepada wartawan, Jumat (1/5/2026).

Gus Lilur mengatakan, bahwa peluang kemenangan relatif lebih besar berada pada jaringan PKB–IKA PMII. Peluang tersebut akan makin menguat apabila mampu membangun koalisi dengan jaringan Kementerian Agama.

“Jika kedua kekuatan ini berpadu, maka potensi suara yang dapat dihimpun bisa mencapai sekitar 400 suara, angka yang secara praktis sangat menentukan,” jelas dia.

Namun, kata Gus Lilur, persoalannya tidak sesederhana itu. Di satu sisi, Menteri Agama memiliki kepentingan untuk maju sebagai ketua umum, tetapi belum menemukan pasangan Rais Aam. Di sisi lain, jaringan PKB–PMII juga ingin mengusung calon ketua umum sendiri, meskipun telah relatif solid dalam menentukan Rais Aam, yakni Said Aqil Siradj.

“Di sinilah pertanyaan kompromi menjadi krusial. Apakah mungkin terjadi skenario di mana jaringan PKB–PMII melepas ambisi pada posisi ketua umum dan menyerahkan posisi tersebut kepada Nasaruddin Umar, untuk kemudian berpasangan dengan Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam?” tutur dia.

“Jika konfigurasi ini benar-benar terjadi, dan mendapatkan dukungan dari Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Muktamar NU sudah ‘selesai sebelum dimulai’. Namun, dinamika Muktamar NU tidak pernah berjalan dalam satu jalur tunggal. Selalu ada kemungkinan munculnya poros tandingan,” kata dia menambahkan.

Gus Lilur juga mengingatkan agar tak meremehkan kekuatan Gus Yahya sebagai petahana. Dalam skenario tertentu, kata dia, Yahya Cholil Staquf dapat membangun pasangan alternatif dengan figur seperti KH Asep Saifuddin Chalim atau KH Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam. Konfigurasi semacam ini berpotensi menjadi rival kuat bagi poros Nazaruddin-Said Aqil Siradj.

“Selain itu, tidak dapat diabaikan juga kemungkinan munculnya pasangan lain, seperti KH Zulfa Mustofa yang berpasangan dengan Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam. Begitu pula peluang pasangan alternatif dari Jawa Timur, yakni KH Marzuki Mustamar yang bisa saja berpasangan dengan KH Ma’ruf Amin, yang tetap memiliki basis kultural yang luas,” terang dia.

Hanya saja Gus Lilur tetap menekankan pentingnya menjaga kemandirian NU dari intervensi kekuasaan. Menurut dia, Muktamar ke-35 harus menjadi momentum untuk memastikan bahwa NU tetap berdiri sebagai organisasi yang mandiri, tidak menjadi alat politik praktis, dan tidak tunduk pada kepentingan kekuasaan jangka pendek.

“NU adalah fondasi republik ini. Ia lahir, tumbuh, dan berkontribusi dalam pembentukan negara. Karena itu, kehormatan NU harus tetap dijaga, terutama di hadapan kekuasaan negara. Semoga Muktamar ke-35 benar-benar menjadi ruang untuk mengembalikan NU sebagai organisasi yang berdaulat, bermartabat, dan bebas dari intervensi,” pungkas Gus Lilur. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *