Seorang lelaki lalu menyuruhku naik ke boncengannya. Dan tanpa pikir panjang akupun segera naik. Aku tak peduli lagi apa yang akan dilakukan oleh Sahri padaku.
Dalam perjalanan itu, dalam kepanikan itu aku memberi diriku sendiri kesempatan untuk menyumpah “Sebaiknya kau mati saja, Ri!”.
Akhirnya kami sampai di sebuah rumah sakit. Laki-laki itu buru-buru membawaku masuk ke IGD. Perawat segera mengarahkanku ke sebuah tempat tidur. Aku meletakkan bayiku yang entah kenapa dia hanya diam.
Perawat itu bertanya “Bayinya kenapa, Bu?” dan seketika semuanya menjadi gelap.
Aku terbangun, entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Aku melihat Ibu Nipah tetanggaku dan kembali ingat, “Bayiku!” pekikku.
Ibu Nipah berusaha menenangkanku. “Tenang Idah, tenang…”.
“Dimana bayiku?” tanyaku memburu. Ibu Nipah tampak sedih.
“Dia meninggal Idah…karena pneumonia. Tapi jasadnya belum bisa ditebus, karena…” Ibu Nipah menghentikan bicaranya.
“Sahri mati Idah…terbakar saat bekerja buruh di pabrik petasan. Dia berusaha mencari pekerjaan untuk menebus anakmu, tapi malangnya, dia…” Ibu Nipah tidak melanjutkan bicaranya.
Saidah bangkit, dia beranjak keluar ruangan, berlari keluar rumah sakit dan terus berlari. Tak ada air mata, dia hanya terus berlari karena kakinya terasa ringan kini. Entah ada rasa lega, bebas dan lepas yang asing, memenuhi dirinya.
Dia berlari terus dan terus tak terhenti, sambil berbisik, “Entah setan mana yang mendengar doaku…” (***)
(* Mira Lazuba, penulis dan konten kreator di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah)
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.



