Kantamedia.com – Ketidakpastian geopolitik global dan dinamika regulasi domestik kini menjadi tantangan ganda bagi industri tambang nasional. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan perlunya langkah strategis dalam mengelola volume produksi guna menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis dunia yang sulit diprediksi.
Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Siti Sumilah Rita Susilawati, mengungkapkan bahwa ritme ekonomi global saat ini berada dalam kondisi tidak stabil. Menurutnya, perebutan mineral kritis di pasar internasional memaksa Indonesia untuk lebih jeli dalam mengatur rantai pasok energi agar tidak terjebak dalam ketergantungan pada negara lain.
“Kita berada pada situasi di mana mineral kritis menjadi komoditas yang diperebutkan banyak pihak. Memiliki sumber daya saja tidak cukup tanpa dukungan komponen penunjang lainnya,” ujar Rita dalam diskusi bertajuk strategi tantangan global di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Menyikapi hal tersebut, pemerintah menerapkan kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebagai instrumen kendali. Berbeda dengan asumsi publik terkait pembatasan, pemerintah sebenarnya melakukan penyesuaian produksi melalui pendekatan value over volume. Strategi ini diambil karena peningkatan volume produksi terbukti tidak selalu linear dengan kenaikan pendapatan negara.
Produksi yang berlebihan justru berisiko memicu tekanan harga akibat pasokan yang melimpah (oversupply). Oleh karena itu, skema evaluasi RKAB industri tambang kini dilakukan secara tahunan untuk memantau pasar dengan lebih terukur. Di sisi lain, pemerintah tetap memperketat aturan Domestic Market Obligasi (DMO) guna menjamin kebutuhan dalam negeri terpenuhi sebelum sisa komoditas dialokasikan untuk pasar ekspor.
Melalui integrasi kebijakan hilirisasi dan ketahanan energi, industri pertambangan diharapkan mampu menjadi pilar utama yang memperkuat posisi tawar Indonesia. Ketaatan pelaku usaha terhadap pemenuhan pasar domestik dinilai sebagai kunci utama agar sektor minerba tetap resilien di tengah tekanan inflasi dan konflik global. (*/pri)






