Sudah 85 Negara Alami Kenaikan Harga BBM sejak Perang Iran Pecah

Kantamedia.com – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) terjadi di berbagai negara setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari 2026.

Dampaknya tidak hanya terasa di kawasan Timur Tengah, tetapi juga merembet ke pasar energi global, dengan puluhan negara mencatat kenaikan harga bahan bakar di tingkat konsumen.

Menurut analisis berbasis data Global Petrol Prices yang dikutip Al Jazeera, setidaknya 85 negara melaporkan kenaikan harga BBM sejak serangan awal terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu.

Kenaikan harga BBM tersebut dipicu oleh gangguan pasokan minyak global serta meningkatnya ketidakpastian di pasar energi internasional.

Motoris di berbagai belahan dunia mulai merasakan dampak langsung konflik geopolitik tersebut. Harga bahan bakar eceran meningkat tajam dalam waktu relatif singkat, mencerminkan sensitivitas pasar energi terhadap risiko pasokan di kawasan produsen utama minyak dunia.

Tren harga BBM dunia mengalami kenaikan

Data tren global dari GlobalPetrolPrices menunjukkan bahwa rata-rata harga bensin dunia juga mengalami kenaikan pada awal Maret 2026.

Harga bensin oktan 95 secara global tercatat meningkat dari sekitar 1,30 dollar AS per liter pada 2 Maret 2026 menjadi 1,35 dollar AS per liter pada 9 Maret 2026.

Perbedaan harga antarnegara tetap signifikan, di mana negara-negara kaya cenderung memiliki harga bahan bakar lebih tinggi, sementara negara produsen minyak umumnya menikmati harga lebih rendah. Dengan kurs Rp 16.977 per dollar AS, rata-rata harga bensin global tersebut setara dengan kenaikan dari sekitar Rp 22.070 per liter menjadi Rp 22.919 per liter.

Platform GlobalPetrolPrices mencatat bahwa data harga energi ritel dikumpulkan dan diverifikasi menggunakan berbagai sumber di lebih dari 150 negara, sehingga memberikan gambaran tren global yang relatif komprehensif.

Data GlobalPetrolPrices juga menunjukkan perbandingan harga bahan bakar antarnegara. Di Amerika Serikat, harga bensin tercatat sekitar 1,01 dollar AS per liter pada awal Maret 2026, lebih rendah dari rata-rata dunia yang mencapai sekitar 1,27 dollar AS per liter. Dengan kurs Rp 16.977 per dollar AS, harga tersebut setara dengan sekitar Rp 17.147 per liter.

Sementara itu, di Indonesia, harga bensin tercatat sekitar 0,74 dollar AS per liter, atau setara dengan sekitar Rp 12.563 per liter, juga berada di bawah rata-rata global. Perbedaan harga ini memperlihatkan bagaimana kebijakan subsidi, struktur pajak energi, serta tingkat produksi domestik memengaruhi harga bahan bakar di masing-masing negara.

Lonjakan paling tajam di Asia Tenggara

Di tingkat negara, beberapa kawasan mencatat kenaikan jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

Vietnam menjadi negara dengan lonjakan harga bensin terbesar sejak konflik Iran pecah. Harga bensin oktan 95 di negara tersebut naik hampir 50 persen, dari sekitar 0,75 dollar AS per liter pada 23 Februari menjadi 1,13 dollar AS per liter pada 9 Maret 2026. Jika dikonversikan dengan kurs Rp 16.977 per dollar AS, harga tersebut meningkat dari sekitar Rp 12.733 per liter menjadi Rp 19.184 per liter.

Selain Vietnam, Laos mencatat kenaikan sekitar 33 persen, Kamboja sekitar 19 persen, Australia sekitar 18 persen, serta Amerika Serikat sekitar 17 persen.

Perbedaan lonjakan harga BBM antarnegara mencerminkan variasi kebijakan energi domestik, tingkat subsidi bahan bakar, serta ketergantungan terhadap impor minyak. Negara-negara yang menyesuaikan harga bahan bakar secara berkala juga diperkirakan masih akan mencatat kenaikan tambahan dalam beberapa bulan ke depan.

Dampak ekonomi yang lebih luas

Kenaikan harga bahan bakar memiliki implikasi luas terhadap aktivitas ekonomi global. Biaya transportasi yang meningkat dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa, terutama di sektor logistik dan distribusi.

Industri yang sangat bergantung pada energi fosil, seperti manufaktur dan transportasi udara, juga menghadapi tekanan biaya operasional.

Selain itu, perbedaan tren harga antarnegara berpotensi memengaruhi daya saing industri dan stabilitas inflasi di masing-masing ekonomi. Negara dengan harga energi yang lebih tinggi cenderung menghadapi tekanan biaya produksi yang lebih besar dibandingkan negara dengan kebijakan subsidi atau sumber energi domestik yang memadai.

Potensi kenaikan berlanjut

Meskipun kenaikan harga BBM telah terjadi di puluhan negara, tekanan harga masih berpotensi berlanjut seiring ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.

Negara-negara yang menerapkan mekanisme penyesuaian harga bulanan kemungkinan akan mengumumkan kenaikan tambahan dalam waktu dekat. Tren global yang menunjukkan kenaikan rata-rata harga bensin pada awal Maret juga mengindikasikan bahwa dampak konflik terhadap pasar energi masih berlangsung.

Ketidakpastian terhadap pasokan minyak, perubahan kebijakan energi nasional, serta dinamika permintaan global akan terus memengaruhi pergerakan harga bahan bakar dalam beberapa waktu ke depan. (*/pri)

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *