Kantamedia.com – Udara yang tampak jernih belum tentu bersih. Di dalamnya bisa melayang partikel polutan sangat halus yang tak terlihat mata, yakni PM2.5 dan PM10. Keduanya sering muncul dalam laporan pemantauan kualitas udara, tetapi ukuran dan karakteristiknya berbeda, begitu pula dampaknya bagi kesehatan.
Ukuran Partikel PM2.5 dan PM10
Angka pada kedua istilah itu menunjukkan ukuran diameter partikel. PM10 merujuk pada partikel berdiameter 10 mikrometer atau lebih kecil, sedangkan PM2.5 berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Sebagai pembanding, diameter rambut manusia sekitar 70 mikrometer, sehingga kedua partikel ini jauh lebih kecil dan mudah terhirup saat seseorang beraktivitas di luar ruangan.
Sumber PM2.5 dan PM10
Asap kendaraan memang kerap dituding sebagai biang polusi, tetapi sumber PM2.5 dan PM10 jauh lebih beragam. Aktivitas industri, pembakaran bahan bakar, hingga debu yang beterbangan di jalan kering turut menyumbang partikel tersebut.
PM10 umumnya berasal dari debu jalanan, tanah, kegiatan konstruksi, dan partikel berukuran lebih besar. Adapun PM2.5 banyak dihasilkan pembakaran bahan bakar, asap kebakaran, aktivitas industri, serta reaksi kimia gas tertentu di atmosfer. Satu sumber polusi bisa melepaskan lebih dari satu jenis partikel, sehingga keduanya sering hadir bersamaan di udara yang dihirup.
PM2.5 Menembus Lebih Dalam ke Paru-paru
Ukuran partikel menentukan seberapa jauh polutan masuk ke saluran pernapasan. PM10 umumnya dapat mencapai saluran napas, termasuk bagian dalam paru-paru, sementara sebagian partikel yang lebih besar tertahan di hidung atau tenggorokan. PM2.5, karena lebih kecil, mampu menembus hingga area paru-paru tempat pertukaran oksigen berlangsung.
Karena itu, paparan PM2.5 perlu diwaspadai, terutama saat konsentrasinya tinggi atau berlangsung lama. Partikel yang tiba di bagian dalam paru-paru dapat memicu peradangan dan mengganggu kesehatan pernapasan. Meski begitu, PM10 tidak boleh dianggap aman karena paparannya juga dapat berdampak buruk bagi tubuh.
Mana yang Lebih Berbahaya?
PM2.5 lazim menjadi sorotan utama. Paparannya dikaitkan dengan beragam gangguan kesehatan, mulai dari masalah pernapasan hingga meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. Tak heran bila konsentrasi PM2.5 menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan kualitas udara.
Di sisi lain, PM10 tetap berpotensi mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi seperti asma, khususnya pada orang yang sensitif terhadap polusi. Tingkat risiko sesungguhnya bergantung pada konsentrasi partikel, lama paparan, komposisi zat pencemar, dan kondisi kesehatan masing-masing orang.
Kelompok Rentan
Polusi udara dapat menyerang siapa saja, tetapi sejumlah kelompok lebih rentan, yaitu anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung atau gangguan pernapasan. Bagi mereka, paparan PM2.5 dan PM10 dapat memperburuk kondisi kesehatan atau meningkatkan peluang munculnya masalah baru.
Penderita asma, misalnya, bisa lebih sering mengalami batuk dan sesak napas ketika kualitas udara menurun. Paparan partikel halus dalam jangka panjang juga berkaitan dengan risiko penyakit jantung dan paru-paru. Orang yang merasa sehat dan tanpa gejala pun tidak semestinya mengabaikan paparan polusi jangka panjang.
Cara Mengurangi Paparan
Menghindari polusi udara sepenuhnya memang sulit, apalagi bagi warga yang tinggal di kawasan dengan lalu lintas padat atau sering beraktivitas di luar rumah. Namun, sejumlah langkah sederhana dapat menekan paparan PM2.5 dan PM10. Salah satunya memeriksa informasi kualitas udara sebelum berolahraga atau melakukan aktivitas berat di luar ruangan.
Saat polusi tinggi, batasi aktivitas fisik di luar dan cari lokasi dengan udara lebih bersih. Jika terpaksa keluar, masker respirator yang pas di wajah, seperti N95 atau KN95 yang memenuhi standar, lebih efektif menyaring partikel halus dibandingkan masker kain biasa. Di dalam ruangan, ventilasi yang baik dan pembersih udara berfilter HEPA juga membantu mengurangi partikel, terutama ketika kualitas udara luar sedang buruk.
Pada akhirnya, PM2.5 dan PM10 sama-sama polutan yang patut diwaspadai. PM2.5 dianggap lebih berisiko karena dapat masuk lebih jauh ke paru-paru, tetapi PM10 tetap berpotensi membahayakan. Kejernihan udara tidak bisa dijadikan patokan, sehingga memantau kualitas udara dan mengurangi paparan polusi penting dilakukan untuk menjaga kesehatan sehari-hari. (*/pri)






