Cek 3 Hal Ini Sebelum Posting atau Berkomentar di Medsos

Kantamedia.com — Gelombang kritik publik terhadap konten nirempati yang diduga diunggah oleh tenaga kesehatan (nakes) dan tenaga medis di platform digital dalam sepekan terakhir memicu keprihatinan banyak pihak. Menanggapi fenomena tersebut, psikolog klinis Ratih Ibrahim menegaskan bahwa kebebasan berekspresi di medsos tidak boleh mengesampingkan tenggang rasa dan etika profesi.

Menurut Ratih, profesi nakes memegang kepercayaan tinggi dari masyarakat, sehingga batasan moral dan kerahasiaan pasien wajib dijaga, baik di dunia nyata maupun di alam maya.

“Media sosial itu memang sebuah ruang untuk berekspresi. Tapi medsos bukan ruang yang bebas dari tanggung jawab. Setiap unggahan mencerminkan karakter, nilai, dan integritas seseorang,” tegas Ratih.

Ia mengingatkan bahwa kewajiban menjaga kerahasiaan dan martabat pasien tidak gugur ketika jam kerja nakes berakhir. Tekanan pekerjaan yang berat sekalipun tidak boleh dijadikan alasan untuk menjadikan pasien sebagai bahan konten di medsos.

“Menjaga empati, menghormati martabat pasien, serta menjaga kerahasiaan dan profesionalisme merupakan fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Di balik setiap akun media sosial ada manusia yang memiliki perasaan dan martabat,” lanjutnya.

Tanyakan 3 Hal Ini Sebelum Posting

Guna mencegah dampak buruk dari kecerobohan beraktivitas di ruang digital, Ratih membagikan panduan sederhana bagi pengguna medsos, khususnya para praktisi kesehatan, sebelum membagikan tulisan, foto, atau komentar.

Setiap individu disarankan untuk melontarkan tiga pertanyaan krusial kepada diri sendiri sebelum menekan tombol unggah:

  1. Keabsahan: Apakah informasi yang hendak dibagikan sudah pasti benar?
  2. Urgenitas: Apakah materi tersebut memang perlu dan relevan untuk disampaikan ke publik?
  3. Kesantunan: Apakah gaya bahasa dan penyampaiannya tetap menghargai martabat orang lain?

“Sebelum mengunggah atau berkomentar, tanyakan pada diri sendiri, Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini disampaikan dengan cara yang menghormati orang lain?” saran Ratih.

Ia menekankan, apabila seseorang belum mampu memberikan jawaban positif atas ketiga poin evaluasi tersebut, langkah terbaik yang wajib diambil adalah menahan diri dan mengurungkan niat memublikasikan konten tersebut di medsos. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *