Gelombang Cuaca Panas Bakal Hantam Indonesia hingga Mei 2026

Kantamedia.com – Kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan menghadapi gelombang cuaca panas lebih awal pada tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan energi sekaligus memperparah tekanan pasokan gas alam cair (LNG) yang terganggu akibat konflik di Timur Tengah.

Dilansir dari The South China Morning Post, Sabtu (14/3/2026), negara seperti Indonesia dan Malaysia diperkirakan akan merasakan dampak paling besar dari kombinasi cuaca panas dan gangguan pasokan energi tersebut.

Berdasarkan prakiraan musiman terbaru dari ASEAN Specialized Meteorological Centre (ASMC), suhu di sebagian besar wilayah Asia Tenggara diprediksi berada di atas rata-rata pada periode Maret hingga Mei 2026.

Wilayah yang terdampak mencakup kawasan maritim dan daratan Asia Tenggara yang dihuni lebih dari setengah miliar penduduk.

ASMC menyebut, peluang terjadinya suhu di atas normal di Indonesia dan Malaysia mencapai 80 hingga 100 persen selama tiga bulan ke depan. Gelombang panas tersebut diperkirakan akan muncul lebih dulu di kedua negara sebelum meluas ke wilayah lain di Asia Tenggara.

Sebagian besar wilayah Thailand dan bagian utara Vietnam juga diprediksi mengalami kondisi panas ekstrem dalam periode yang sama.

Sementara itu, hanya beberapa wilayah yang diperkirakan memiliki suhu mendekati normal, antara lain Vietnam bagian tenggara, Kamboja, dan sebagian Filipina.

Kondisi cuaca panas tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya tekanan pada pasokan energi global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran disebut telah mengganggu produksi dan distribusi energi di Timur Tengah.

Gangguan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi serta memperketat pasokan LNG bagi negara-negara di Asia Tenggara yang bergantung pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik.

Sejumlah negara di kawasan bahkan mulai mencari pasokan tambahan di pasar spot LNG. Vietnam dan Thailand dilaporkan tengah mengincar pengiriman LNG untuk Maret dan April guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi.

Sementara itu, Singapura, yang lebih dari 40 persen pasokan LNG-nya berasal dari Qatar, diperkirakan akan menghadapi kenaikan harga listrik pada kuartal kedua tahun ini.

Di sisi lain, harga spot LNG di Asia dilaporkan melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir. Negara-negara Asia Tenggara kini harus bersaing dengan pembeli dari kawasan lain, termasuk Eropa, untuk mendapatkan pasokan gas yang terbatas.

Jika kondisi ini berlanjut, kombinasi gelombang panas dan krisis pasokan energi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap jaringan listrik di kawasan tersebut selama puncak musim panas. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *