Nilai-Nilai Kearifan Lokal Suku Dayak dalam Implementasi Pengarusutamaan Gender

Oleh: Rusmawati Damarsari

Terlahir Untuk Berbagi Peran

Konsep kesetaraan gender sudah sejak awal menyatu dalam kehidupan suku Dayak. Hal ini terlihat dimana konsepsi kesetaraan gender merupakan tantangan bagi setiap perempuan untuk membuktikan diri bahwa para perempuan dari suku Dayak bukan insan lemah. Salah satu konsep kesetaraan gender dalam tradisi perempuan Dayak adalah, dirinya harus mampu berperan sebagai Balian.

Dalam tradisi Dayak, seorang Balian adalah seorang perempuan yang memiliki tugas sebagai mediator dan komunikator antara manusia dengan makhluk lainnya yang keberadaannya tidak terlihat mata jasmani manusia.

Dalam bahasa lain, seorang perempuan yang mampu menyampaikan dan atau menafsirkan pesan “metabahasa” dari fenomena alam yang diterima sebagai sebuah informasi bagi kepentingan tradisi Dayak.

Perempuan Dayak sejak balita telah diarahkan memiliki sikap kewaspadaan tingkat tinggi, baik dalam perilaku, ucap kata maupun janji. Dalam tradisi Dayak, kewaspadaan tehadap ucapan sangat penting, karena frekuensi kata yang terucap akan te-receive ke alam dan alam akan men-feedback ke personal dirinya. Artinya, setiap kata mengandung resiko dan konsekuensi, misalnya waspada mencemooh, atau menertawakan bahkan mengomentari peristiwa fenomena alam, maka alam sendiri yang akan membalas melalui mekanisme naturalnya.

Dalam konsep kepercayaan suku Dayak, manusia dan makhluk lainnya telah ditentukan dan ditugaskan dalam kedudukan masing-masing untuk memenuhi fungsinya dalam rangka memelihara tata tertib alam agar dapat berjalan sebagaimana mestinya. Serasi dan seimbang di kalangan suku Dayak disebut Hadat.

Manusia dikatakan baik apabila mampu menjalankan seluruh “Hukum Hadat” dan mentaati Hukum Pali. Apabila mereka melakukan kesalahan maka harus menerima sangsi berupa Singer yang cukup berat. Singeradalah denda atau hukuman, atau diusir dari daerah jika tidak mentaati Singer. Denda dapat ditujukan untuk melindungi perempuan.

Baik laki-laki maupun perempuan Dayak memiliki jiwa ksatria pemberani dan pantang menyerah, hal tersebut terungkap dalam semboyan hidup mereka Isen Mulang artinya pantang menyerah. Sikap demikian sejak masa lalu mau tidak mau harus mereka memiliki karena tuntutan hidup di alam. Hidup di rimba belantara dihuni binatang buas, sungai yang luas dengan arus deras dan riam-riam ganas membuat mereka harus waspada demi keselamatan hidup.

Nilai-nilai Teladan Perempuan Dayak Untuk Implementasi Dalam Pekerjaan

Perlindungan hukum adat di atas, setidaknya memperlihatkan sosok peran perempuan memiliki harkat dan derajat yang setara dengan laki-laki dalam hal peran untuk saling menghormati dan menghargai dalam kehidupan masing-masing. Fenomena di atas, adalah suatu teladan yang bisa diterapkan dalam kehidupan di pekerjaan sehari-hari.

Peran laki-laki dan perempuan dalam menjaga hutan dan alam sangat kuat, kalau tidak dikatakan harmoni.

Dalam ruang pekerjaan seperti kita sekarang, keberanian dan ketangguhan sosok Balian menjadi hal yang patut diimplementasikan dengan berbagi peran. Perempuan Dayak tetap bekerja secara kolaboratif bersama-sama lainnya, terutama menjaga alam, hutan dan adat istiadatnya.

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

Bagikan berita ini