Nilai-Nilai Kearifan Lokal Suku Dayak dalam Implementasi Pengarusutamaan Gender

Oleh: Rusmawati Damarsari

Hutan sebagai ruang hidup mereka, benar-benar dijaga, karena dari hutan lah semua dapat menjalankan fungsi dan tugas kehidupannya. Alam menjadi baik, harmoni, iklim dan cuaca bagus, bentang alam yang hijau adalah gambaran para perempuan mendukung perannya bersama laki-laki dalam melestarikan alam.

Dalam pekerjaan, bila “hutan raya” sebuah analogi presisi dengan institusi (kantor:red) kita, maka berbagi peran setidaknya membuat suasana “hutan raya” menjadi lebih harmoni, penuh aktifitas sesuai dengan porsinya.

Peribahasa “di mana langit dipijak di situ langit dijunjung”, adalah pribahasa Indonesia yang mengharuskan para pendatang menghargai dan menghormati budaya dan adat istiadat setempat.

Sikap ini bisa disebut sebagai “survival adaptation”, karena saat kita datang, maka kita berada dalam “ruang kehidupan” tempat tersebut. Akses udara, oksigen, cahaya matahari, air, tanah, hingga makanan, minuman, “menyatu” dalam diri, sehingga seharusnya terjadi proses asimilasi budaya dan pemikiran, bahkan bila perlu melakukan sebuah “simbiosis mutualisme”, dimana terjadi saling menebar manfaat dan kebaikan di tempat yang kita pijak.

Keberadaan kita, di sini saat ini, adalah pada sisi yang lain sebuah skema sang maha semesta mendudukan “tugas” agar kita mengambil “pelajaran” dan menyelesaikan “ujian” hidup dan pekerjaan dengan “tulus” agar menjadi “lulus”. Tentunya, semua mesti dijalani dengan seksama, sabar, kolaboratif, dan bekerja secara “team work” untuk kebermanfaatan tidak saja bagi para pendatang, tetapi untuk masyarakat dan kearifan lokal.

Setidaknya, secara kontemplatif kita bisa hening sejenak untuk belajar dengan alam dan budaya setempat.

Teladan dan contoh dari suasana kehidupan “Hutan Raya”, setidaknya menggambarkan suasana kognisi yang memberikan teladan dalam hal harmonisasi, sinkronisasi, team work, bekerja pada level job deskmasing-masing. Tentu saja, bila sedikit saja koneksi pada alam, jelas terlihat suasana keteladanan “Hutan Raya” lebih beradab dan berakhlak fokus pada job desk nya, sehingga mampu mensupport kokohnya alam menjadi kaya air, kaya unsur hara, dan kaya akan oksigen.

Atau sesuai dengan tugas kita dimana capaian-capaian program kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku, karena bila konsep khalifah fil ardh benar-benar dipahami secara aplikatif, maka kelestarian dan harmoni “hutan raya” yang jadi analogi di atas, dapat dijalankan dengan berbagi peran secara harmoni dan sinkron.

Team work seperti alam dan pepohonan, sesuai dengan cuaca dan air yang diterima dari alam, juga fokus bekerja sesuai peran masing-masing. Pohon, rumput, ilalang, air, cuaca, tanah, unsur hara, bahkan manusianya yang berada sebagai “avatar” di ruang “Hutan Raya” bekerja terus dalam simbiosis yang saling menguntungkan dan tebar manfaat.

Oleh karena itu, mari kita jaga alam hidup kita dengan harmoni. Setidaknya peribahasa “di mana langit dipijak di situ langit dijunjung” jadi modal dasar agar suasana kehidupan di “Hutan Raya” ini mampu survive dan struggle dalam menghadapi segala tantangannya. (***)


(Penulis: Rusmawati Damarsari. Adalah Kepala Bidang Lelang Kantor Wilayah DJKN Kalimantan Timur dan Utara)

Sumber: DJKN Kemenkeu

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

Bagikan berita ini