Lamat-lamat aku bertanya pada diriku, “Harus kemana aku setelah ini?”
Kosong…aku tak punya pilihan. Pulang ke kampung nenek, aku tak punya uang, dan pula tak punya keberanian untuk itu. Kembali memohon kepada majikanku untuk mengampuniku, sepertinya sudah tidak mungkin.
Aku ketakutan. Aku tidak memiliki pilihan selain terus berdiri di sana. Hingga sayup-sayup ku dengar seseorang memanggilku, “Idah…Idah…!”
Dan disanalah Sahri, dengan kaos lusuhnya, terengah-engah menghampiriku. Entah, mengapa aku merasa senang melihat Sahri. Orang yang turut menghancurkan hidupku, sejenak menjelma menjadi harapan baru. Dan mengingat momen itu kini membuatku kesal dan merasa begitu dungu. Mungkin jika malam itu, aku melompat saja dari atas jembatan, maka semuanya akan lebih baik.
Malam itu Sahri membawaku ke rumah orang tuanya, dan berkata “Aku mau nikah sama perempuan ini Pak, Buk” dan itulah awalnya kepahitan hidupku makin tak terperi.
Aku masih terus menimang bayi cantikku berusaha menenangkannya, tapi dia terus menangis, sesekali terbatuk dan terlihat sangat lemas. Mukanya memerah, dan panasnya makin tinggi.
Ada kepanikan dan kegelisahan yang mencuat dalam diriku. Aku terlalu bodoh untuk bisa mengira apa yang terjadi pada bayiku. Aku hanyalah gadis 17 tahun yang tak tau mengurus dirinya sendiri dan kini harus mengurus seorang bayi. Aku tahu untuk pertama kalinya aku mendengar sirene tanda bahaya dalam diriku yang entah mendengung dari mana yang membuatku semakin panik dan gelisah.
Di ruangan panas pengap dan penuh kepulan asap rokok itu untuk pertama kalinya aku menangis dan menjerit. “Paling tidak jangan merokok! Tak ada uang, tapi terus membeli rokok!” aku mengamuk.
Aku kesal pada tingkah Sahri, suamiku yang tak pernah memikirkan apakah aku sudah makan atau belum, tapi selalu bisa santai dengan rokoknya. Sering kali kami bertengkar hanya karena urusan rokok. Uang 5000 akan bisa membuatku kenyang siang malam jika dia gunakan untuk membeli beras. Tapi dengan angkuhnya, berlagak orang kaya raya, dia malah membeli beberapa batang rokok.
Sejak bersama Sahri, tak pernah aku merasa hidup dengan layak, makan dengan kenyang, tidur dengan damai. Aku terlalu kelelahan untuk menjadi tak lebih berharga dari sebatang rokok. Batinku terus menjerit walau mulutku diam. Air mataku terus mengalir walau tatapanku kosong.
Kini, ku ambil selimut dan mendekap bayiku. Tanpa alas kaki aku menerjang keluar pintu. Aku berlari semampuku seperti orang kesetanan sambil menangis dan terus menjerit, “Tolong tolong!”.
Orang-orang di pemukiman kumuh itu memandangiku aneh, tapi aku tak peduli. Aku terus berlari menuju jalan raya, berharap ada orang waras mau membantuku.
“Tolong! Tolong!” aku menjerit.
Beberapa orang akhirnya dengan panik mengerubungiku. Mereka bertanya, “Ada apa?”.
Lalu kujawab “Bayiku! Bayiku!”
Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.



