Harga Beras dan Cabai Picu Inflasi, Kalteng Alami Kenaikan 3,86 Persen

Palangka Raya, Kantamedia.com – Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) di Kalimantan Tengah pada Maret 2026 mencapai 3,86 persen. Kenaikan harga masih didominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau, seiring meningkatnya permintaan menjelang Hari Raya Idulfitri.

Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, mengungkapkan secara bulanan (month-to-month/m-to-m) inflasi tercatat sebesar 0,54 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 110,91 pada Februari menjadi 111,51 pada Maret 2026.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni 0,46 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain beras, cabai rawit, ikan nila, bensin, dan tomat,” ujarnya.

Secara kumulatif, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga Maret 2026 mencapai 1,39 persen. Sementara itu, secara tahunan kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang utama dengan andil sebesar 1,91 persen.

Selain komoditas pangan, sejumlah faktor lain turut memberi kontribusi terhadap inflasi, di antaranya emas perhiasan sebesar 0,76 persen, tarif listrik 0,60 persen, beras 0,41 persen, daging ayam ras 0,31 persen, serta ikan nila 0,15 persen.

Agnes menjelaskan, hasil pemantauan di empat kabupaten/kota IHK di Kalimantan Tengah menunjukkan seluruh wilayah mengalami inflasi, baik secara bulanan maupun tahunan. Kondisi ini dipengaruhi faktor musiman menjelang Lebaran yang mendorong lonjakan permintaan, sementara pasokan, khususnya beras, masih terbatas karena belum memasuki masa panen.

“Momentum Idulfitri meningkatkan permintaan pangan, sementara sisi pasokan belum optimal. Ini yang mendorong tekanan harga,” jelasnya.

Ia menegaskan, kondisi tersebut menunjukkan inflasi di Kalimantan Tengah masih sangat dipengaruhi dinamika sektor pangan. Oleh karena itu, pengendalian pasokan dan kelancaran distribusi menjadi kunci menjaga stabilitas harga di daerah.

Upaya sinergi antar pemangku kepentingan dinilai penting agar inflasi tetap terkendali, terutama dalam menghadapi periode permintaan tinggi seperti hari besar keagamaan. (Daw).

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *