Konflik Global Tekan Kripto, Investor DCA Panen Saat Bitcoin Rebound

Kantamedia.com – Dunia keuangan global kembali diguncang sejak pertengahan Februari 2026 setelah operasi militer besar antara Amerika Serikat–Israel dan Iran memicu ketegangan geopolitik. Dampaknya langsung terasa di pasar aset digital, dengan Bitcoin sebagai kripto terbesar mengalami tekanan tajam.

Harga Bitcoin sempat merosot dari kisaran US$ 80.000 ke level US$ 62.900–63.000, menjadi titik terendah dalam beberapa bulan terakhir. Kepanikan pasar dipicu ketidakpastian global yang mendorong investor melakukan aksi jual cepat di berbagai aset berisiko.

Namun, situasi berbalik ketika sinyal deeskalasi konflik mulai muncul. Bitcoin mencatat pemulihan berbentuk huruf “V” dengan lonjakan lebih dari 17% hanya dalam beberapa sesi perdagangan. Per 20 Maret 2026, harga Bitcoin kembali menembus level psikologis US$ 70.000 dan diperdagangkan di sekitar US$ 74.200.

Bagi investor jangka panjang yang menerapkan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA), periode kepanikan tersebut justru menjadi momentum akumulasi yang menguntungkan.

Sejarah pasar kripto menunjukkan pola serupa. Saat perang Rusia–Ukraina pada 2022 dan konflik Israel–Gaza pada 2023, Bitcoin juga sempat terkoreksi tajam sebelum akhirnya menjadi salah satu aset dengan pemulihan tercepat.

Perbedaan pada siklus 2026 terletak pada kecepatan rebound yang lebih singkat, yang menunjukkan semakin matangnya basis investor serta meningkatnya keterlibatan lembaga keuangan besar di pasar kripto.

Di sisi lain, Ethereum dan sejumlah altcoin besar seperti Solana serta BNB mengalami koreksi yang lebih dalam dibandingkan Bitcoin. Meski demikian, prospek jangka menengahnya masih dinilai positif.

Persetujuan ETF Ethereum pada 2025 menjadi faktor penting yang memperkuat arus dana institusional. Sementara itu, dominasi Bitcoin yang bertahan di atas 60% sepanjang 2025 menunjukkan bahwa investor masih menjadikan aset utama sebagai pilihan saat kondisi pasar tidak stabil.

Para analis juga mencatat perubahan menarik dalam dinamika pasar. Bitcoin kini menunjukkan korelasi yang semakin kuat dengan indeks Nasdaq, dengan tingkat korelasi di atas 0,75 pada kuartal pertama 2026. Hal ini mempertegas persepsi bahwa Bitcoin semakin dipandang sebagai aset teknologi, bukan sekadar alternatif emas digital.

Dalam konteks konflik geopolitik, emas masih menjadi safe haven utama saat perang memuncak. Sebaliknya, Bitcoin lebih sering menjadi aset yang menguat saat fase pemulihan dan stabilisasi ekonomi global.

Dengan pola historis tersebut, membeli Bitcoin ketika konflik memanas dan harga tertekan sering kali menjadi strategi untuk meraih keuntungan ketika pasar kembali pulih. (Mhu).

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *