Jakarta, Kantamedia.com – Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Merujuk data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,25% ke posisi Rp17.705/US$, membalikkan pelemahan sehari sebelumnya ketika ditutup melemah 0,31% ke Rp17.765/US$.
Penguatan rupiah terjadi seiring koreksi indeks dolar AS (DXY) yang melemah 0,08% ke 99,502 pada pukul 09.00 WIB. Meski demikian, dinamika global masih membayangi pergerakan rupiah. Dolar sempat menyentuh level tertinggi dua pekan akibat eskalasi konflik AS-Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi global.
Dolar AS juga ditopang ekspektasi kebijakan moneter. Pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 68%, naik dari 40% pekan sebelumnya. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan sempat menembus 4,8182%, tertinggi sejak November 2023, membuat aset AS semakin menarik bagi investor.
Namun, aksi jual obligasi akibat kekhawatiran fiskal AS dan inflasi tinggi menimbulkan keraguan terhadap daya tarik dolar dalam jangka panjang.
Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031, Destry Damayanti, menegaskan perekonomian global masih berada dalam fase higher for longer. “Bond yield tinggi, inflasi tinggi di negara maju, dan suku bunga masih terus tinggi. Ini pasti akan kami antisipasi dalam kebijakan domestik,” ujarnya usai dilantik di Mahkamah Agung, Rabu (2/9/2026).
BI menekankan stabilitas tetap menjadi fokus utama, terutama menjaga nilai tukar rupiah, inflasi, dan sistem keuangan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi. (*/Mhu).






