Sektor Sawit Lesu, Laju Ekonomi Kalteng Triwulan I 2025 Melambat

Palangka Raya, Kantamedia.com – Laju ekonomi Kalimantan Tengah pada triwulan I 2026 dilaporkan mengalami perlambatan moderat. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah melansir data perekonomian terbaru periode Mei 2025 yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Bumi Tambun Bungai ini berada di angka 3,79% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menurun jika dibandingkan dengan capaian triwulan IV 2025 yang sempat menyentuh 4,79% (yoy).

Melansir dari laman Bank Indonesia, Sabtu (20/6/2026), Kantor Perwakilan BI Kalteng mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah kali ini juga berada di bawah rata-rata pertumbuhan regional Kalimantan yang mencapai 4,08% (yoy), serta belum mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang bertengger di angka 5,61% (yoy).

Sektor Pertambangan dan Konstruksi Jadi Penopang

Meski melambat secara agregat, pergerakan ekonomi di Kalteng masih ditopang oleh kinerja positif dari Lapangan Usaha (LU) Pertambangan dan Penggalian, Konstruksi, serta Administrasi Pemerintahan. LU Pertambangan dan Penggalian melonjak hingga 7,99% (yoy), naik signifikan dari triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 4,99% (yoy). Kenaikan ini dipicu oleh genjotan produksi batu bara yang mendorong volume ekspor komoditas tersebut meroket hingga 20,49% (yoy).

Sektor Konstruksi juga menunjukkan pemulihan luar biasa dengan tumbuh sebesar 8,25% (yoy), setelah sempat terkontraksi minus 1,14% (yoy) pada triwulan lalu. Lompatan ini didorong oleh naiknya nilai proyek konstruksi sebesar 4,14% (yoy) serta pasokan semen yang meningkat tajam hingga 15,67% (yoy). Sementara itu, LU Administrasi Pemerintahan melejit ke angka 14,39% (yoy) imbas realisasi pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) serta penambahan aparatur sipil negara (ASN) jalur PPPK.

Sektor Pertanian dan Kelapa Sawit Terperosok

Faktor utama yang mengerem pertumbuhan ekonomi di Kalteng adalah jebloknya sektor unggulan, khususnya LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang terkontraksi minus 0,21% (yoy). Padahal, triwulan sebelumnya sektor ini tumbuh subur di angka 3,39% (yoy).

Penurunan performa ini terjadi akibat merosotnya produksi kelapa sawit sebesar 3,63% (yoy). Curah hujan yang tinggi di awal tahun serta proses pemulihan lahan pascabanjir menjadi pemicu utama gagalnya optimalisasi panen kelapa sawit. Efek domino dari lesunya bahan baku ini membuat LU Industri Pengolahan ikut minus 0,11% (yoy), seiring menyusutnya produksi Crude Palm Oil (CPO) sebesar 4,66% (yoy) dan penurunan ekspor CPO global sebesar 7,28% (yoy).

Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Pemerintah Meningkat

Dari kacamata pengeluaran, permintaan domestik menjadi penyelamat wajah ekonomi daerah. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi mencatatkan kinerja positif sebesar 4,51% (yoy), berbalik arah dari kontraksi triwulan sebelumnya sebesar minus 0,63% (yoy).

Sisi investasi ini sepenuhnya disokong oleh belanja modal pemerintah yang bersumber dari APBD dan APBN dengan lonjakan fantastis mencapai 152,03% (yoy), di tengah lesunya investasi swasta (PMA dan PMDN) yang merosot minus 23,46% (yoy).

Di sisi lain, daya beli masyarakat yang tercermin dari Konsumsi Rumah Tangga juga naik menjadi 4,01% (yoy). Aktivitas belanja ini bergerak dinamis berkat momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri yang didukung oleh kucuran THR. Sejalan dengan itu, Konsumsi Pemerintah melonjak 5,16% (yoy), sementara Ekspor Barang dan Jasa masih tumbuh positif 1,51% (yoy) meski ritmenya melandai dibanding performa triwulan sebelumnya. Perbaikan juga tampak pada konsumsi LNPRT yang tumbuh 2,04% (yoy) berkat tingginya mobilitas kegiatan lembaga keagamaan selama masa Lebaran. (pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *