Setelah Els mengetahui kondisinya tidak kunjung membaik, dia dan Jan, bersama putra mereka, mulai mendiskusikan duo-eutanasia. Dengan prosedur medis itu, keduanya akan mengembuskan napas terakhir bersama-sama.
Di Belanda, euthanasia dan bunuh diri dengan bantuan merupakan langkah yang sah secara hukum. Syaratnya, seseorang mengajukan permintaan sukarela. Lalu, kondisi yang mereka anggap sebagai penderitaan, baik fisik maupun psikologis, harus didiagnosis oleh dokter sebagai “sesuatu yang tak tertahankan”.
Satu syarat lainnya, tidak ada kemungkinan bahwa kondisi sang pengaju akan membaik.
Setiap orang yang meminta bantuan kematian harus menjalani penilaian oleh dua dokter. Prosedurnya, dokter kedua akan mengevaluasi pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter pertama.
Pada 2023, terdapat 9,068 orang meninggal karena eutanasia di Belanda. Angka ini sekitar 5% dari total jumlah kematian di negara tersebut. Pada tahun itu, terdapat 33 kasus duo-eutanasia. Artinya, 66 orang meninggal dalam prosedur ini.
Duo-eutanasia merupakan kasus yang rumit dan menjadi lebih rumit jika salah satu pasangan menderita demensia. Alasannya, terdapat ketidakpastian mengenai kapasitas mereka untuk memberikan persetujuan.
“Banyak dokter bahkan tidak mau memikirkan untuk melakukan eutanasia pada pasien demensia,” kata Rosemarijn van Bruchem, ahli geriatri dan ahli etika di Erasmus Medical Centre, Rotterdam.
Situasi rumit ini pula yang dialami Jan dan Els. Keengganan para dokter tercermin dalam angka eutanasia. Dari ribuan orang yang meninggal pada 2023, 336 orang menderita demensia. Jadi bagaimana petugas medis memastikan terdapat “penderitaan tak tertahankan” pada pasien demensia sebagai syarat hukum dalam pengajuan eutanasia?
Bagi banyak penderita demensia tahap awal, ketidakpastian tentang bagaimana perkembangan di masa depan dapat membuat mereka berpikir untuk mengakhiri hidup, kata dokter van Bruchem.
“Apakah saya tidak akan mampu melakukan hal-hal yang menurut saya penting? Apakah saya tidak akan mengenali keluargaku lagi?” ujarnya tentang pertanyaan yang kerap muncul di benak para penderita demensia.
“Jika Anda bisa mengungkapkannya dengan cukup baik, jika dapat dipahami baik oleh dokter yang bersedia melakukan eutanasia, maupun dokter kedua yang berspesialisasi dalam kompetensi mental, ketakutan eksistensial tentang apa yang akan terjadi dapat menjadi alasan untuk mempertimbangkan eutanasia,” kata van Bruchem.
Karena dokter umum yang menangani mereka tidak mau terlibat, Jan dan Els berkunjung ke klinik eutanasia keliling bernama Centre of Expertise on Euthanasia.
Badan ini mengawasi sekitar 15% kematian eutanasia tahun lalu di Belanda. Dalam setahun, rata-rata mereka mengabulkan sekitar sepertiga permintaan eutanasia.






