Kantamedia.com – Kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang perang besar. Kesepakatan damai yang baru seumur jagung buyar total setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara sepihak menyatakan bahwa gencatan senjata dan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Iran resmi berakhir. Pernyataan keras itu dilontarkan Trump di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki, Rabu (8/7/2026).
Keputusan ini menjadi titik didih baru setelah ketegangan militer di jalur pelayaran vital dunia kembali meledak dalam beberapa hari terakhir. “Sejauh yang saya ketahui, ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka (Iran) lagi. Mereka sampah,” ujar Trump dengan nada ketus saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai status kesepakatan damai tersebut.
Langkah drastis ini diambil Washington menyusul rasa frustrasi Trump atas apa yang disebutnya sebagai rentetan pelanggaran kesepakatan oleh Teheran. Padahal, MoU Islamabad yang berisi 14 poin krusial tersebut baru saja ditandatangani secara elektronik oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 18 Juni lalu.
CENTCOM Gempur Tiga Wilayah Pesisir Iran
Runtuhnya kesepakatan di meja diplomasi langsung diikuti oleh dentuman senjata di lapangan. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa mereka telah meluncurkan gelombang serangan udara ke sejumlah target strategis di wilayah Iran sejak Selasa (7/7/2026).
Juru bicara militer AS menyatakan, operasi udara ini terpaksa dilakukan untuk memberikan efek jera yang mahal kepada Teheran. AS menuduh Iran telah mengkhianati poin gencatan senjata dengan terus mengganggu dan menyerang kapal-kapal dagang internasional yang melintas di Selat Hormuz.
Laporan dari media resmi Pemerintah Iran menyebutkan bahwa rudal-rudal AS menghantam tiga titik krusial di pesisir selatan, yakni Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Sirik. Meski serangan fajar tersebut dilaporkan melukai sejumlah warga sipil akibat serpihan proyektil, hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa dari pihak Iran.
Pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait Dihujani Rudal
Teheran tidak tinggal diam menerima gempuran tersebut. Hanya berselang beberapa jam setelah jet tempur AS kembali ke pangkalan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) langsung melancarkan aksi balasan yang tidak kalah mematikan.
Menggunakan doktrin pertahanan penuh, IRGC menghujani sejumlah fasilitas militer luar negeri milik AS di kawasan Teluk. Target utamanya adalah Bandar Salman di Bahrain yang merupakan markas komando Armada Kelima Angkatan Laut AS, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.
Tak hanya itu, militer Iran juga mengklaim berhasil menembak jatuh satu unit drone pengintai canggih MQ-9 Reaper milik AS yang dituduh mencoba mengacaukan operasi pertahanan mereka.
Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk keras agresi militer AS ini sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB mengenai kedaulatan negara, sekaligus merobek Paragraf 1 dalam MoU tentang Pengakhiran Perang yang baru mereka sepakati tiga minggu lalu.
Peringatan Keras Teheran untuk Negara di Kawasan Teluk
Sadar bahwa AS menggunakan fasilitas militer di negara-negara tetangga untuk menggempur wilayahnya, Pemerintah Iran langsung mengeluarkan ultimatum terbuka kepada negara-negara Arab di kawasan Teluk. Teheran memperingatkan sekutu-sekutu regional AS agar tidak mengizinkan wilayah atau ruang udara mereka digunakan oleh Washington untuk menyerang Iran.
“Setiap kerja sama dalam melakukan kejahatan agresi terhadap Iran merupakan bentuk keterlibatan dan partisipasi langsung dalam kejahatan tersebut,” tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran.
Bola panas kini berada di tangan Dewan Keamanan PBB. Iran menyatakan telah melayangkan surat protes resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB. Namun, di saat yang sama, militer Teheran menegaskan bahwa berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB, mereka memiliki hak penuh untuk membela diri dan tidak akan ragu untuk terus menghantam pusat-pusat logistik yang menjadi asal-muasal agresi militer AS. (*/pri)






