Karhutla di Barsel Melonjak, Selama Agustus Terdeteksi 1.938 Titik Api

Buntok, Kantamedia.com — Lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kabupaten Barito Selatan (Barsel). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sebanyak 2.037 titik panas (hotspot) terdeteksi di enam kecamatan sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026.

Dari pemantauan tersebut, Agustus menjadi bulan paling kritis. Sebagian besar sebaran titik panas menumpuk pada bulan ini, yakni mencapai 1.938 titik.

“Puncak kejadian berlangsung pada Agustus dengan 75 peristiwa kebakaran. Angka ini menyumbang sekitar 66,37 persen dari total 113 insiden yang terjadi sepanjang tahun berjalan,” ujar Kepala BPBD Barito Selatan, Agus In’yulius, di Buntok, Senin (31/8/2026).

Eskalasi titik panas tersebut berbanding lurus dengan kerusakan ekosistem. Total area terdampak karhutla sejak awal tahun tercatat seluas 514,86 hektare, dengan 452,41 hektare di antaranya hangus terbakar selama bulan Agustus saja.

Kecamatan Dusun Selatan menjadi wilayah terdampak terparah setelah mencatatkan 63 kali insiden kebakaran yang membumihanguskan 245,08 hektare lahan. Sementara itu, peristiwa pemadaman terbesar terkonsentrasi di Desa Batampang, Kecamatan Dusun Hilir. Kebakaran tunggal di desa tersebut pada 23 Agustus 2026 memusnahkan area seluas 100 hektare.

Secara rincian wilayah, pemantauan sebaran titik panas mencatat Dusun Hilir mendominasi dengan 877 titik (9 insiden, 147,92 hektare). Disusul Dusun Selatan sebanyak 478 titik, Jenamas 357 titik (14 insiden, 27,50 hektare), Dusun Utara 121 titik (7 insiden, 36,00 hektare), Gunung Bintang Awai 108 titik (2 insiden, 7,50 hektare), serta Karau Kuala dengan 96 titik (18 insiden, 50,86 hektare).

Penanganan Terpadu dan Tanggap Darurat

Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kabupaten Barito Selatan menetapkan status tanggap darurat karhutla yang dijadwalkan berlangsung hingga 5 September 2026. Penetapan ini berjalan setelah melewati fase siaga darurat selama 17 hari sebelumnya.

Guna menekan penyebaran api, BPBD menerjunkan tim gabungan lintas instansi yang melibatkan unsur TNI, Polri, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL), Masyarakat Peduli Api (MPA), pemadam kebakaran, hingga Dinas Kesehatan.

Fokus penyisiran dan pemadaman diarahkan pada koridor rawan, seperti jalur Desa Madara menuju Kalahien, serta rute Pamangka di Dusun Selatan hingga Desa Rampa Mea di Dusun Utara.

“Kami membagi tugas seluruh personil untuk melakukan tindakan pemadaman langsung sekaligus pembasahan (cooling down) menggunakan armada penanggulangan yang ada,” tutur Agus.

Meskipun sifat kebakaran tergolong sporadis, Agus memastikan kondisi lapangan saat ini masih terkendali. Berdasarkan data tingkat provinsi, catatan titik panas di Barito Selatan juga belum menempati posisi tertinggi.

Kendati demikian, tahap pendinginan lahan terus digencarkan. Langkah preventif ini krusial untuk mengantisipasi potensi munculnya bara api tersembunyi di bawah permukaan tanah gambut.

“Pembasahan berulang wajib dilakukan. Lahan yang tampak padam di permukaan sering kali menyimpan potensi api yang bisa menyala kembali sewaktu-waktu dan meluas,” tegasnya.

Mengenai pemicu bencana, Agus menduga kuat pergerakan api dominan akibat dorongan aktivitas manusia ketimbang faktor cuaca alami. Namun, aspek legalitas dan motif di balik peristiwa kebakaran tersebut diserahkan sepenuhnya kepada kepolisian.

“Terkait ada unsur kesengajaan atau kelalaian, proses penyelidikan sepenuhnya kami serahkan kepada aparat penegak hukum, termasuk menindaklanjuti beberapa pihak yang telah diamankan,” pungkasnya. (pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *