Satelit NASA Tangkap Karbon Monoksida Pekat di Atas Indonesia

Kantamedia.com – Citra satelit NASA menunjukkan adanya konsentrasi karbon monoksida (CO) yang tinggi terpantau menyelimuti wilayah Indonesia pada pertengahan Oktober 2026. Kondisi tersebut di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai bukan tidak mungkin menjadi salah satu penyebab utamanya.

Fenomena itu tampak dalam NASA Eyes on Earth, yang menyajikan rata-rata pengamatan selama tiga hari, yakni 13–15 Oktober 2026. Pada peta tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia berwarna merah tua. Warna itu dikelilingi gradasi oranye, kuning, dan hijau yang menggambarkan tingkat konsentrasi karbon monoksida di atmosfer.

Data dari instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua milik NASA memperlihatkan warna merah pekat, penanda konsentrasi CO yang tinggi, membentang di seluruh Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Merujuk NASA, karbon monoksida adalah gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau. Data satelit tentang gas ini berguna untuk memantau polusi serta pergerakan polutan di atmosfer.

Asal Karbon Monoksida

Gas karbon monoksida terbentuk saat bahan berkarbon terbakar tanpa pasokan oksigen yang cukup, sehingga pembakarannya tidak sempurna. Contohnya bahan bakar kendaraan, kayu, dan vegetasi hutan.

Dalam peristiwa karhutla, semak, tanaman kering, dan bahan organik di lapisan gambut berpotensi melepaskan CO ke udara. Angin kemudian membawanya jauh dari lokasi kebakaran. Karena itu, Malaysia dan Singapura turut terdampak karhutla di Indonesia.

Meski begitu, CO juga bisa berasal dari sumber lain, seperti emisi kendaraan bermotor, pembangkit listrik, kegiatan industri, dan pembakaran sampah oleh masyarakat.

Hubungan antara karhutla dan lonjakan CO pernah dicatat NASA pada 2015 dalam laporan berjudul Carbon Monoxide in the Mid-Troposphere over Indonesia Fires, October 26-28, 2015. Laporan itu memperlihatkan tingginya konsentrasi CO di atmosfer akibat karhutla besar kala itu.

Sebagai pembanding, konsentrasi CO di Sumatra pada 2015 mencapai 400 ppbv, sedangkan pada 13–15 Oktober 2026 berkisar 160 ppbv. Angka 160 ppbv setara sekitar 0,08 mikroliter CO dalam 500 mililiter udara yang dihirup. Jika seseorang bernapas 16 kali per menit dengan volume tersebut, CO yang terhirup mencapai sekitar 1,28 mikroliter per menit. Jumlah itu tergolong kecil, tetapi tidak berarti aman.

Untuk kondisi Oktober 2026, dugaan penyebab tingginya CO perlu didukung data sebaran asap dan kecepatan angin. Pantauan ASEAN Specialised Meteorological Centre (asmc.asean.org) pada Jumat (16/10/2026) menunjukkan asap dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah bergerak mengikuti angin ke arah barat Indonesia.

Sementara asap dari Sumatra juga terlihat mengepung Singapura dan Malaysia. Karena itu, konsentrasi CO yang sangat tinggi di atmosfer Indonesia bukan tidak mungkin berasal dari karhutla.

Gejala Keracunan Karbon Monoksida

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahaya CO karena gejalanya tidak selalu khas. Gejala awalnya bahkan bisa mirip seperti flu atau penyakit ringan lain, sehingga banyak yang tidak sadar jika telah terpapar gas beracun. Gejala keracunan CO antara lain:

  • Sakit kepala dan pusing
  • Tubuh lemas atau kelelahan
  • Mual dan muntah
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Kebingungan atau sulit berkonsentrasi
  • Gangguan keseimbangan dan penglihatan
  • Pingsan atau kehilangan kesadaran pada keracunan berat

Karena tidak berbau maupun berwarna, CO disebut silent killer. Tingkat risikonya bergantung pada konsentrasi gas, lama paparan, dan kondisi kesehatan orang yang terpapar.

Orang-orang dengan penyakit bawaan bisa sangat dirugikan dari paparan CO. Kemenkes menyebut paparan gas CO bisa memperparah iskemic miokard (kondisi ketika aliran darah ke jantung berkurang) pada orang dengan penyakit jantung koroner.

Selain itu, bahaya juga mengintai anak-anak, apalagi kasus ISPA di Kalimantan semakin meningkat. Kemenkes mencatat 283 kasus ISPA selama karhutla berlangsung beberapa bulan terakhir. Selain PM 2.5, CO dari karhutla juga punya efek samping yang berbahaya jika terhirup anak-anak. Gejalanya yang paling terlihat adalah sesak, pusing, dan gangguan kesadaran. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *