Palangka Raya, Kantamedia.com – Beberapa waktu lalu tercatat sembilan titik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dalam satu hari. Salah satu titik terbaru berada di Jalan Tjilik Riwut Km 13.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi, membenarkan kebakaran tersebut bukan semata karena cuaca. “Ada indikasi sengaja dibakar,” ungkapnya, Kamis (23/7/2026).
Dari sembilan titik, delapan sudah dipadamkan atau masih dalam pemantauan. Satu titik di Jalan G. Obos Lanjutan dipadamkan menggunakan water bombing. Sementara titik di Jalan Tjilik Riwut Km 13 baru bisa dilanjutkan penanganannya keesokan hari.
Penanganan sembilan titik tersebut melibatkan BPBD Kota dan Provinsi, Dinas Kehutanan Kalteng, Manggala Agni, Samapta Polda Kalteng, TSAK Menteng, BPK Amin Subur, dan Borneo Sektor
Adapun ttitik terjadinya karhutla tersebut diantaranya di Jalan Banteng, Bukit Tunggal – Padam, Jalan Alam Lestari Gg Nonong Bangas, Bukit Tunggal – Padam, pemantauan, Jalan Gustaf Erang, Bukit Tunggal – Padam, pemantauan , Jalan Kahuripan Ujung, Kalampangan, belakang BGE – Padam, pemantauan.
Kemudian di Jalan G. Obos Lanjutan, Bukit Tunggal – Padam via water bombing, Jalan Tjilik Riwut Km 23, Marang – Padam, pemantauan, Jalan Karanggan, belakang Pesantren Hasanka – Padam, pemantauan Jalan Buluh Merindu – Padam dan Jalan Tjilik Riwut Km 13, Robertson Desei – Padam, pemantauan.
Dikatakan Hendrikus, munculnya sembilan titik dalam waktu berdekatan menimbulkan tanda tanya. Pola kebakaran serentak dinilai tidak lazim jika hanya disebabkan musim kemarau. “Setiap tahun di lokasi ini terjadi kebakaran lahan,” katanya.
Pernyataan itu memunculkan pertanyaan mengapa titik yang sama terbakar berulang. Dugaan pembukaan lahan dengan cara dibakar menguat, namun hingga saat ini belum ada informasi penindakan terhadap pelaku.
Terlepas dari itu sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026, BPBD mencatat 180 kali karhutla di Palangka Raya.
Sementara itu tambah Hendrikus, BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini lebih kering dan panjang, dengan puncak pada Agustus. Lahan gambut yang kering membuat api lebih mudah menyebar.
Pemko Palangka Raya sendiri telah mengantisipasi dengan teknologi modifikasi cuaca untuk membasahi gambut. Hendrikus mengingatkan, risiko kabut asap seperti 2015 masih terbuka jika pembakaran lahan terus terjadi.
“BPBD terus mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar, tidak membakar sampah sembarangan, mewaspadai puntung rokok, memastikan api padam, dan segera melapor ke RT/RW, kelurahan, atau call center 112,” sebutnya. (*/Fay)






