PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan tantangan utama penanganan karhutla di Kalimantan Tengah saat ini bukan semata kemampuan pemadaman, melainkan munculnya kembali api di kawasan gambut setelah titik kebakaran sebelumnya berhasil dikendalikan.
Hal tersebut disampaikan Suharyanto, Selasa (22/9/2026). Ia mengatakan satuan tugas darat masih mampu menangani sebagian besar luasan kebakaran setiap harinya, meski operasi udara menghadapi kendala visibilitas.
Suharyanto mencontohkan, dari sekitar 100 hektare lebih lahan yang terbakar dalam satu kejadian, sekitar 80–85 persen dapat dipadamkan oleh Satgas Darat.
“Jadi luar biasa satuan tugas daratnya sudah bisa memadamkan cukup besar. Jadi yang sekarang sedang dipadamkan itu tinggal sedikit, nggak sampai 50 hektare,” kata Suharyanto.
Persoalan berbeda muncul pada lahan gambut. Api yang telah dipadamkan dapat kembali muncul sehingga penanganan harus dilakukan secara berulang.
“Kalau bukan lahan gambut, begitu dipadamkan hari ini, besok sudah selesai operasi karhutla. Karena sudah padam semua. Tapi lahan gambut kan tidak seperti itu. Hari ini 50 hektare dipadamkan, ada lagi yang baru muncul. Nah, itu yang jadi masalah,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah menetapkan ukuran keberhasilan harian bukan hanya berdasarkan luas api yang berhasil dipadamkan, tetapi juga harus dibandingkan dengan kemunculan kebakaran baru.
“Kami sepakat di bawah arahan Pak Menteri Kehutanan bahwa capaian hasil yang dipadamkan satu hari itu harus lebih besar dari timbulnya kebakaran baru,” ujarnya.
Suharyanto mengatakan operasi udara dalam beberapa hari terakhir terkendala jarak pandang. Helikopter water bombing dan operasi modifikasi cuaca tidak dapat bekerja maksimal dari Palangka Raya karena visibilitas rendah.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, BNPB menggeser pesawat operasi modifikasi cuaca dari Jakarta menuju Pangkalan Bun. Selain itu, pesawat OMC dari Kalimantan Selatan juga diperbantukan untuk membantu mendatangkan hujan di Kalteng.
“Paling tidak ada dua pesawat yang mulai nanti sore dan malam akan operasi mencari hujan untuk Provinsi Kalteng,” katanya.
Dukungan operasi udara juga disiapkan dari beberapa wilayah. Suharyanto menyebut terdapat tiga pesawat water bombing yang dapat bergerak, masing-masing dari Pangkalan Bun, Sampit dan bantuan dari Kalimantan Selatan untuk wilayah Pulang Pisau.
Ia mengatakan apabila kondisi Bandara Tjilik Riwut kembali memungkinkan untuk penerbangan, armada yang berada di Palangka Raya juga dapat kembali mendukung operasi.
Sementara itu, terkait pesawat Kamov yang dijadwalkan datang, Suharyanto memastikan satu unit telah berada di Sampit dan sudah beroperasi. Dari total tujuh pesawat yang berada di sekitar Palangka Raya dan wilayah pendukung, sebagian masih terkendala kondisi cuaca dan visibilitas.
“Sudah tiba di Sampit, ada satu. Sudah operasi juga,” ujarnya.
Suharyanto berharap kombinasi penguatan Satgas Darat, operasi udara dan turunnya hujan dapat membantu menekan karhutla di Kalteng. (daw)






