Inilah 10 Pelatih Termahal di Piala Dunia 2026

Kantamedia.com – Panggung Piala Dunia 2026 tidak sekadar menjadi medan tempur bagi talenta lapangan hijau, melainkan juga adu taktik para juru strategi dengan nilai kontrak fantastis. Demi ambisi memboyong trofi emas, sejumlah federasi sepak bola rela merogoh kocek dalam-dalam. Menariknya, sistem transparansi finansial dan audit yang ketat seperti skema pengawasan Coretax milik DJP dalam dunia fiskal, seolah tecermin dari bagaimana rincian angka-angka gaji ini kini menjadi konsumsi publik secara terbuka.

Anomali besar terjadi pada nakhoda tim nasional Argentina, Lionel Scaloni. Kendati sukses mengantarkan Albiceleste merengkuh takhta juara dunia pada edisi 2022, pendapatannya justru tercecer di luar posisi lima besar. Scaloni bahkan kalah makmur dibanding deretan arsitek tim yang belum pernah mencicipi gelar juara dunia.

Posisi puncak justru dikuasai oleh manajer timnas Brasil, Carlo Ancelotti, yang mengantongi pendapatan masif mencapai 8,28 juta pound sterling atau setara Rp194,53 miliar per tahun. Upah Don Carlo melonjak lebih dari tiga kali lipat dibanding Scaloni yang hanya menerima 2,61 juta pound sterling (sekitar Rp61,32 miliar).

Pelatih dengan Gaji Tertinggi pada Piala Dunia 2026

Berdasarkan data yang dihimpun dari Planet Football, berikut adalah estimasi 10 juru taktik dengan bayaran paling tinggi pada turnamen akbar ini, menggunakan konversi kurs per 19 Juni 2026 (1 pound sterling = Rp23.494):

1. Carlo Ancelotti (Brasil – Rp194,53 Miliar)

Menjadi pelatih asing pertama yang menakhodai Selecao, kontrak Ancelotti telah dipagari hingga tahun 2030. Reputasinya yang mengoleksi lima trofi Liga Champions serta juara di lima liga top Eropa menjadi garansi utama bagi Brasil untuk memutus puasa gelar dunia mereka.

2. Thomas Tuchel (Inggris – Rp118,88 Miliar)

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) kepincut dengan kelihaian Tuchel dalam laga hidup-mati (sistem gugur). Mantan bos Chelsea dan Bayern Munchen ini dibayar mahal demi membawa pulang trofi sepak bola ke tanah Britania.

3. Mauricio Pochettino (Amerika Serikat – Rp106,43 Miliar)

Sebagai salah satu tuan rumah, Amerika Serikat memecahkan rekor internal dengan menggaji Pochettino sangat tinggi. Pengalamannya di kompetisi elite Eropa diharapkan mampu mendongkrak performa tim di hadapan publik sendiri.

4. Julian Nagelsmann (Jerman – Rp98,67 Miliar)

Kendati tergolong muda, kualitas Nagelsmann diakui secara global. Finansial kuat dari federasi Jerman mengikatnya dengan kontrak jangka panjang hingga Euro 2028 demi menjaga stabilitas taktik Der Panzer.

5. Fabio Cannavaro (Uzbekistan – Rp82,23 Miliar)

Kehadiran legenda Italia ini memicu kejutan besar. Uniknya, tiket kelolosan historis Uzbekistan ke putaran final diraih oleh pelatih lokal, Timur Kapadze. Namun, manajemen tim memilih menyerahkan kendali turnamen kepada Cannavaro karena jam terbang internasionalnya yang tinggi.

6. Roberto Martinez (Portugal – Rp82,23 Miliar)

Modal juara UEFA Nations League 2025 membuat Martinez memiliki posisi tawar yang kuat. Kini, ia dibebani target tinggi untuk meramu skuad mewah Portugal menjadi unit tempur yang solid.

7. Didier Deschamps (Prancis – Rp77,77 Miliar)

Setelah mengabdi lebih dari satu dekade dan mempersembahkan trofi 2018, Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi tarian terakhir Deschamps bersama Les Bleus sebelum rumor suksesi oleh Zinedine Zidane menjadi kenyataan.

8. Lionel Scaloni (Argentina – Rp61,32 Miliar)

Dipercaya saat kondisi keuangan federasi sempat limbung, Scaloni terbukti menjadi investasi paling efisien bagi Argentina. Meski berstatus juara bertahan, nominal gajinya sejajar dengan Koeman dan Bielsa.

9. Marcelo Bielsa (Uruguai – Rp61,32 Miliar)

Pelatih berjuluk El Loco ini menatap Piala Dunia ketiganya dengan optimisme tinggi setelah sukses menumbangkan tim-tim raksasa di fase kualifikasi.

10. Ronald Koeman (Belanda – Rp61,32 Miliar)

Walau jalannya periode kedua tidak selalu mulus, kematangan Koeman menghadapi tekanan media dan publik menjadi alasan utama De Oranje tetap memercayakan kemudi tim kepadanya.

Angka-angka masif ini menegaskan bahwa status juara dunia tidak selalu berjalan lurus dengan nilai kontrak ekonomi. Publik kini menanti, apakah investasi triliunan rupiah dari federasi-federasi tersebut akan berbuah prestasi manis di lapangan hijau, atau justru berakhir sebagai kerugian taktik yang fatal. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *