Kantamedia.com – Gelombang penolakan keras melanda panggung sepak bola global usai Presiden FIFA Gianni Infantino mewacanakan komersialisasi ajang tertinggi sepak bola. Otoritas sepak bola Eropa, UEFA, secara terbuka mengecam gagasan melepas kepemilikan Piala Dunia kepada pihak swasta. Ancaman boikot turnamen internasional tersebut kini membayangi jika agenda kontroversial itu tetap dipaksakan berjalan.
Menurut laporan Talksport pada Selasa (28/7/2026) waktu setempat, Infantino sedang menjajaki opsi pembentukan entitas korporasi baru guna mengelola berbagai kejuaraan papan atas pria dan wanita, termasuk Piala Dunia serta Piala Dunia Antarklub. Langkah privatisasi ini berpotensi merombak total struktur kompetisi, mulai dari penambahan kuota peserta hingga peningkatan frekuensi gelaran.
Pembahasan bisnis ini disinyalir melibatkan sejumlah taipan ternama yang memiliki kedekatan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sosok Joshua Kushner, adik dari Jared Kushner, masuk dalam bursa calon investor yang digadang-gadang berkolaborasi dengan lembaga keuangan internasional JP Morgan.
Dalam draf rencana yang beredar, FIFA mengiming-imingi dana segar sekitar US$ 20 juta (sekitar Rp325 miliar) bagi masing-masing dari 211 asosiasi anggotanya. Tak hanya itu, Infantino dilaporkan berpeluang menduduki posisi komisaris pada entitas baru tersebut setelah purna tugas dari jabatannya, yang diproyeksikan paling cepat usai pada 2031.
Skenario ini memicu tuduhan bahwa sang pimpinan berpotensi mengeruk keuntungan personal secara finansial dari peralihan tata kelola tersebut.
UEFA Siapkan Langkah Kolektif
Merespons manuver tersebut, para petinggi federasi di benua biru menjadwalkan agenda konsolidasi darurat pada pekan ini guna merumuskan perlawanan. Konfederasi sepak bola Eropa tersebut juga mulai menghimpun kekuatan politik untuk mengusung kandidat penantang Infantino dalam Kongres Pemilihan Presiden FIFA di Maroko pada 18 November mendatang.
Sebagaimana diketahui, suksesor Sepp Blatter itu telah menduduki kursi tertinggi di badan sepak bola dunia tersebut sejak 2016.
Menyadur laporan The Times, UEFA menerbitkan pernyataan tegas yang menilai wacana privatisasi ini telah melanggar batas regulasi serta marwah tata kelola olahraga modern.
“UEFA menganggap persoalan ini sangat serius. Begitu pula seharusnya setiap asosiasi sepak bola nasional, liga, klub, pemain, suporter, pemerintah, dan semua pihak yang peduli terhadap masa depan sepak bola,” tegas UEFA dalam keterangan resminya.
Sikap konfederasi Eropa tersebut menandaskan bahwa batas kepemilikan aset olahraga tidak boleh dikomodifikasi secara sepihak demi kepentingan komersial belaka.
“Tak satu pun dari kita memiliki sepak bola. Sepak bola juga bukan milik FIFA untuk dijual,” bunyi nada penolakan UEFA secara menohok.
Jika ketegangan antara kedua institusi terkuat di sepak bola ini berlanjut tanpa titik temu, masa depan turnamen Piala Dunia di bawah naungan FIFA berisiko menghadapi boikot massal dari negara-negara papan atas Eropa. (*/pri)






