Kekeringan Berdampak pada 1.219 Petani di Palangka Raya

PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Musim kemarau berkepanjangan berdampak pada sektor pertanian di Kota Palangka Raya. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan setempat mencatat sekitar 1.404,7 hektare lahan hortikultura terdampak kekeringan, sementara sekitar 14 hektare tanaman padi sawah mengalami kerusakan atau kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya, Sugiyanto, menyampaikan kondisi tersebut pada Selasa (27/10/2026). Dampak kekeringan terjadi di lima kecamatan dan memengaruhi aktivitas budidaya tanaman pangan maupun hortikultura.

Dari total lahan hortikultura terdampak, Kecamatan Sebangau mencatat luasan terbesar, yakni 672 hektare, disusul Kecamatan Rakumpit 651,25 hektare. Sementara itu, Kecamatan Bukit Batu tercatat 47 hektare, Pahandut 23,2 hektare, dan Jekan Raya 11,25 hektare.

Pada sektor padi sawah, sekitar 14 hektare dilaporkan mengalami kerusakan atau kekeringan. Dari jumlah tersebut, tanaman padi di Kelurahan Petuk Bukit seluas 5,5 hektare mengalami puso atau gagal panen. Dinas memperkirakan tingkat kegagalan produktivitas pada lahan atau komoditas terdampak berada pada kisaran 60–80 persen.

Sugiyanto menyebut jumlah petani yang terdampak mencapai 1.219 orang. Sebanyak 927 orang berada di Kecamatan Sebangau, 171 orang di Rakumpit, 77 orang di Bukit Batu, 27 orang di Jekan Raya, dan 17 orang di Pahandut.

Keterbatasan air menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi petani. Sumber air untuk kegiatan pertanian selama ini berasal dari irigasi, pompa air, serta tadah hujan. Namun, pada musim kemarau, ketersediaan air tanah mulai menurun, debit sungai berkurang, dan sejumlah embung serta sumber air lainnya juga mengalami penurunan.

“Saat ini petani di Kota Palangka Raya sudah mengalami kesulitan mendapatkan air karena air tanah sudah mulai berkurang atau mengering dan penurunan debit air sungai juga mulai berkurang atau mengering,” kata Sugiyanto.

Kondisi tersebut membuat petani menunda penanaman untuk mengurangi risiko gagal tanam dan gagal panen. Jika kekeringan terus berlanjut, lahan yang tidak dapat ditanami berpotensi bertambah, jadwal tanam mundur, dan pertumbuhan tanaman terganggu.

Komoditas yang rentan terdampak meliputi padi, jagung, sayuran, ubi, timun, buah naga, nanas, hingga kelapa sawit. Kekurangan air dapat menurunkan hasil produksi, bahkan menyebabkan tanaman gagal panen.

Dampak kekeringan juga perlu diperhatikan dalam konteks pemenuhan kebutuhan pangan daerah. Sugiyanto menjelaskan bahwa Kota Palangka Raya bukan daerah produsen beras utama, sehingga kebutuhan beras selama ini masih dipasok dari luar daerah. Sejumlah komoditas hortikultura untuk memenuhi kebutuhan masyarakat juga masih bergantung pada pasokan dari wilayah lain.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bersama penyuluh pertanian lapangan telah melakukan pendataan dampak kekeringan. Pemerintah daerah juga mengupayakan pemanfaatan pompa air dan sumber air yang masih tersedia serta mempertimbangkan penyesuaian jadwal tanam sesuai kondisi di lapangan.

Apabila kondisi kering berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, penyesuaian kalender tanam, penggunaan varietas yang lebih toleran terhadap kekeringan, dan pengembangan sumber air alternatif menjadi sejumlah langkah mitigasi yang dapat dipertimbangkan untuk menekan risiko kerugian petani. (daw)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *