Imbas Damai AS-Iran, Harga Emas Diproyeksi Menguat Rp3,1 Juta per Gram

Kantamedia.com– Tren harga emas diproyeksikan kembali bergerak positif pascakasepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (16/6/2026) pukul 11.17 WIB, nilai komoditas logam mulia di pasar global berada pada angka US$4.325 per troy ons, atau mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,16 persen dalam kurun waktu sepekan terakhir.

Analis Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa rencana penandatanganan pakta perdamaian kedua negara di Swiss pada 19 Juni 2026 mendatang telah meredam gejolak geopolitik.

Dampak langsung dari situasi kondusif ini adalah penurunan harga minyak mentah dunia, yang kemudian memicu para investor untuk memindahkan aset mereka kembali ke sektor logam mulia.

Pembukaan Selat Hormuz ini merupakan mendobrak logam mulia maupun emas dunia,” kata Ibrahim, Selasa (16/6/2026).

Stimulus Pembelian oleh Bank Sentral Dunia

Faktor akselerasi harga emas ke depan juga didorong oleh masifnya langkah diversifikasi cadangan devisa oleh sejumlah bank sentral global. Lembaga keuangan JP Morgan memprediksi total volume pembelian emas oleh bank sentral secara global mampu menyentuh angka 800 ton sepanjang tahun 2026.

Sebagai contoh, Bank Sentral China yang kini menguasai akumulasi 2.332 ton emas diproyeksi menambah cadangannya sebanyak 10 ton pada bulan ini, disusul Bank Indonesia yang telah membeli 2 ton emas pada awal kuartal II-2026.

Meskipun demikian, Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa memberikan catatan bahwa meredanya tensi politik berpotensi mengikis daya tarik emas sebagai aset aman (safe haven). Namun, ia menilai koreksi tersebut hanya bersifat temporer karena pasar masih bersandar pada ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.

“Saat ini pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, serta kondisi ekonomi global yang masih menyimpan berbagai ketidakpastian,” ujar Amru.

Strategi Akumulasi Bertahap untuk Investor

Menyikapi fluktuasi instrumen ini, Amru menyarankan para pelaku pasar untuk menerapkan metode pembelian bertahap (dollar-cost averaging) saat terjadi koreksi teknis. Langkah ini dinilai jauh lebih aman dan terukur dibandingkan melakukan penempatan modal besar dalam satu waktu sekaligus.

Bagi pemilik modal berorientasi jangka panjang, komoditas ini tetap solid difungsikan sebagai instrumen lindung nilai (hedging) serta diversifikasi portofolio saat pasar keuangan bergejolak. “Yang terpenting, alokasi investasi tetap disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing,” tutur Amru mengingatkan.

Secara teknikal, ICDX memproyeksikan pergerakan harga emas global akan berkonsolidasi secara stabil pada rentang US$4.300 hingga US$4.500 per troy ons hingga kuartal III-2026. Jika indeks dolar AS terus melemah, aset ini berpeluang menembus level perlawanan baru di angka US$4.700 per troy ons.

Sementara itu, untuk pasar domestik, Ibrahim memprediksi harga logam mulia berpotensi melesat naik mencapai Rp3,1 juta per gram dari posisi saat ini yang tertahan di level Rp2.729.000 per gram. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *