Palangka Raya, Kantamedia.com – Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi sebesar 1,04 persen secara month-to-month (m-to-m) pada Desember 2025. Kenaikan ini tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 108,85 pada November menjadi 109,98 pada Desember, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah, Senin (5/1/2026).
Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyebutkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,91 persen.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi paling besar secara bulanan, yakni sebesar 0,91 persen,” ujarnya.
Sejumlah komoditas pangan strategis tercatat menjadi pemicu utama inflasi m-to-m. Cabai rawit menyumbang andil sebesar 0,18 persen, disusul daging ayam ras dan bawang merah masing-masing 0,16 persen, beras 0,12 persen, serta ikan gabus 0,09 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga masih terfokus pada komoditas pangan yang rentan terhadap gangguan pasokan dan faktor musiman.
Sementara itu, secara year-on-year (y-on-y) inflasi Kalimantan Tengah mencapai 3,13 persen, angka yang sama juga tercatat secara year-to-date (y-to-d) hingga Desember 2025. Pada periode ini, kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi kontributor utama dengan andil 1,59 persen.
Agnes menjelaskan, komoditas yang memberikan andil signifikan terhadap inflasi tahunan antara lain emas perhiasan sebesar 0,66 persen, beras 0,22 persen, cabai rawit 0,18 persen, sigaret kretek mesin 0,16 persen, serta bawang merah 0,14 persen. Kenaikan harga emas perhiasan menunjukkan adanya tekanan inflasi dari faktor non-pangan.
Berdasarkan pemantauan BPS di empat kabupaten/kota IHK di Kalimantan Tengah, seluruh wilayah tercatat mengalami inflasi baik secara bulanan maupun tahunan pada Desember 2025. Emas perhiasan dan cabai rawit tercatat konsisten memberikan andil inflasi di seluruh daerah pemantauan.
BPS juga mengidentifikasi sejumlah faktor pemicu inflasi akhir tahun, antara lain meningkatnya permintaan masyarakat pada momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru), peringatan Haul Guru Sekumpul yang berdampak pada berkurangnya pasokan barang dari Kalimantan Selatan, serta tingginya curah hujan yang menurunkan produksi cabai rawit dan hasil tangkapan ikan.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa tekanan inflasi di Kalimantan Tengah masih dipengaruhi oleh faktor musiman dan gangguan pasokan. (Daw)



