Kantamedia.com – Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalimantan Tengah kembali menyelenggarakan festival Pesona Tambun Bungai 2026 guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah berbasis kecintaan terhadap produk lokal. Agenda tahunan yang berlangsung pada 29–31 Mei 2026 di Duta Mall Palangka Raya ini menjadi wadah strategis dalam memperluas penetrasi pasar pasar domestik maupun global.
Penjabat Sekretaris Daerah Kalimantan Tengah, Victoria Linae Aden, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi Bank Indonesia yang terus bersinergi dengan pemerintah provinsi. Langkah kolaboratif ini dinilai krusial untuk memacu digitalisasi sistem pembayaran, memperlebar akses pembiayaan instansi keuangan, serta mendorong sektor kemitraan agar naik kelas.
“Sektor komoditas kreatif memiliki andil besar sebagai motor penggerak stabilitas ekonomi regional, penyerap tenaga kerja potensial, sekaligus representasi identitas budaya Kalimantan Tengah,” ungkap Victoria Linae Aden saat membuka acara, Jumat (29/5/2026).
Dia mengharapkan Pesona Tambun Bungai 2026 menjadi wadah strategis dalam memperkenalkan produk unggulan UMKM Kalimantan Tengah, memperluas jejaring usaha, serta memperkuat kolaborasi antara Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, lembaga keuangan, dunia usaha, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan.
“UMKM harus terus didorong agar semakin naik kelas, inovatif, mampu memanfaatkan teknologi digital, serta dapat memperluas akses pasar dan pembiayaan,” ujarnya.
Pameran Pesona Tambun Bungai kali ini memfasilitasi lebih dari 10 pelaku UMKM unggulan daerah yang tersebar di berbagai stan promosi. Produk yang ditampilkan didominasi oleh hasil kerajinan tangan bernilai estetika tinggi, kain wastra eksklusif seperti Benang Bintik, hingga aneka tas anyaman rotan modern. Victoria menegaskan, pelaku usaha harus terus berinovasi memanfaatkan ekosistem digital demi memperluas rantai pasok perdagangan.
Selaras dengan visi tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalteng, Yuliansah Andrias, memproyeksikan total perputaran uang selama tiga hari pelaksanaan festival mampu menembus angka minimal Rp300 juta. Pemilihan pusat perbelanjaan modern sebagai lokasi pameran merupakan bagian dari strategi manajemen untuk menjaring pergerakan volume pengunjung yang lebih masif.
Melalui perpaduan promosi media massa dan literasi keuangan inklusif, BI optimistis kualitas produk kreatif buatan perajin lokal, baik berupa kuliner olahan, kriya, maupun busana etnik, dapat bersaing ketat di pasar nasional sekaligus mewujudkan ketahanan ekonomi daerah yang berkelanjutan. (*/pri)


