10 Adab Takziah Orang Meninggal dalam Islam

Kantamedia.com – Melayat atau takziah termasuk amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan, anjuran tersebut tetap berlaku meski orang yang meninggal memiliki keyakinan yang berbeda.

Kehadiran pelayat diharapkan dapat membantu keluarga yang ditinggalkan merasa lebih tenang dan tidak sendirian menghadapi musibah. Selain memiliki nilai sosial yang kuat, melayat juga mengandung pahala yang besar. Hal ini didukung dengan sabda Rasulullah SAW:

“Siapa saja yang bertakziah kepada orang yang terkena musibah, maka dia akan mendapat pahala seperti orang yang mendapat musibah tersebut.” (HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)

Karena itu, Islam juga mengajarkan beberapa adab yang perlu diperhatikan saat melayat agar tujuan takziah dapat tercapai dengan baik.

Adab melayat ke rumah duka berdasarkan tuntunan Nabi dan ulama

1. Menutup Mata Jenazah dan Membaca Doa Istirja

Sering kali, saat seseorang baru saja meninggal dunia, matanya masih dalam keadaan terbuka.

Dalam Islam, dianjurkan untuk segera menutup mata jenazah dengan lembut agar orang-orang di sekitarnya tidak merasa takut atau terganggu saat melihatnya. Setelah itu, disunnahkan pula untuk membaca doa istirja sebagai bentuk pengingat bahwa semua yang ada di dunia ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Artinya: “Sesungguhnya semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah pahala dalam musibah yang menimpaku dan gantilah dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad dan Muslim)

2. Menghibur Keluarga dan Mengucapkan Doa Takziah

Hibur dan kuatkan hati keluarga yang ditinggalkan dengan mengingatkan mereka untuk selalu bersabar dan mengharapkan pahala atas ujian tersebut.

Sampaikan pula doa ampunan bagi almarhum. Untuk itu, kamu bisa membacakan doa takziah riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini:

إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah maha memiliki atas apa yang Dia ambil dan Dia berikan. Segala sesuatu mempunyai masa-masa yang telah ditetapkan di sisi-Nya. Hendaklah kamu bersabar dan mohon pahala (dari Allah).”

3. Tidak Bertanya Kronologi Kematian Berulang-ulang

Sering kali pelayat berbasa-basi dengan menanyakan detail atau kronologi kematian secara berulang kepada pihak keluarga.

Sebaiknya, sikap seperti ini tidak dilakukan karena hanya akan mengorek luka lama dan menambah beban batin mereka.

4. Menghindari Menangis Histeris dan Perilaku Tidak Pantas

Bersedih dan menangis sewajarnya tentu diperbolehkan, karena Rasulullah SAW pun menangis saat kehilangan kerabatnya. Namun, pelayat dilarang keras meratap, berteriak-teriak histeris, apalagi hingga merobek pakaian.

Ucapkanlah kalimat-kalimat yang baik saja karena para malaikat senantiasa mengaminkan doa di sekitar jenazah. Dalam kitabnya, Imam Al-Ghazali juga merinci pantangan saat melayat, di antaranya:

  • Dilarang berdandan terlalu menor.
  • Dilarang memakai parfum yang kelewat semerbak.
  • Tidak boleh terlalu banyak berbicara.
  • Tidak mengumbar senyum karena bisa menyinggung keluarga yang tengah berduka.

5. Ikut Menyalatkan dan Mengantarkan Jenazah ke Makam

Bentuk takziah yang paling sempurna adalah ikut menyalatkan jenazah dan mengiringinya hingga selesai dimakamkan.

Terdapat pahala luar biasa untuk amalan ini, yaitu satu qirath (sebesar satu gunung raksasa) jika ikut menyalatkan, dan mendapat total dua qirath jika menemaninya hingga masuk ke liang kubur.

6. Membuatkan Makanan untuk Keluarga Jenazah

Keluarga yang baru ditinggalkan biasanya sangat sibuk mengurus jenazah dan tenggelam dalam kesedihan sehingga abai terhadap kebutuhan fisik mereka. Karena itulah, pelayat dianjurkan untuk menyiapkan atau membawakan makanan bagi tuan rumah.

Hal ini pernah disabdakan Nabi SAW ketika sahabat Ja’far wafat: “Sesungguhnya keluarga Ja’far sedang sibuk dengan urusan musibah mereka, maka buatkanlah makanan untuk mereka.” (HR. Ibnu Majah)

Adab Ketika Berada di Pemakaman

1. Mengucapkan Salam kepada Penghuni Makam

Begitu tiba di makam, posisikan diri menghadap kepala pusara dan ucapkanlah salam pembuka:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Artinya: “Keselamatan kepada penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin, kami Insya Allah akan menyusul kalian semua. Aku memohon keselamatan kepada Allah untuk kami dan kalian semua.” (HR. Muslim)

2. Membaca Istigfar, Doa, dan Surat Pendek

Sesampainya di makam, bacalah kalimat istighfar dan berdoalah dengan posisi menghadap kiblat untuk memohon ampunan bagi jenazah.

Setelahnya, dianjurkan melantunkan surat-surat pendek Alquran, seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas, agar sang mayit mendapat curahan rahmat dari Allah.

3. Melepas Alas Kaki dan Tidak Duduk di Atas Pusara

Sebagai wujud rasa hormat, lepaskanlah alas kaki (sandal/sepatu) saat menapaki area kuburan, kecuali bila kondisi tanah sedang basah kuyup atau sangat panas terik.

Pelayat juga sangat dilarang untuk duduk, berdiri, atau berjalan persis di atas pusara. Rasulullah SAW bersabda:

“Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur.” (HR. Muslim)

4. Menyiramkan Air di Atas Pusara

Menyiramkan air sekaligus meletakkan bebatuan kerikil di atas gundukan makam adalah perbuatan sunnah.

Hal ini juga dipraktikkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis, disebutkan: “Sesungguhnya Rasulullah SAW menyiram (air) di atas kubur Ibrahim, anaknya, dan meletakkan kerikil di atasnya.” (HR. Abu Daud). (*/pri)

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *