Palangka Raya, Kantamedia.com – Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat telah menerbitkan sebanyak 179 buku dwibahasa sepanjang periode 2021 hingga 2026. Penerbitan buku-buku tersebut menjadi salah satu upaya nyata Balai Bahasa Kalteng dalam menjaga kelestarian bahasa daerah, melalui cerita-cerita berbahasa lokal yang dilengkapi terjemahan bahasa Indonesia.
Ketua Tim Kerja Pembinaan Balai Bahasa Kalteng, Rensi Sisilda, menyampaikan bahwa penerbitan buku dwibahasa tersebut merupakan bagian dari langkah mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan kekayaan bahasa daerah kepada masyarakat luas.
“Buku, kita sudah membuat buku sejak 2021 dwibahasa dari bahasa daerah diterjemahkan ke Indonesia. Ada 179 buku yang sudah diterbitkan,” ungkap Rensi dalam dialog literasi bertajuk “Membaca Orangutan, Mengenal Kalimantan: Dialog Literasi untuk Semesta Lestari” yang digelar secara daring melalui Zoom, Selasa (29/9/2026).
Rensi menjelaskan, seluruh proses penerbitan buku dwibahasa dilakukan dengan mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan Pusat Bahasa. Hal ini memastikan buku-buku terbitan Balai Bahasa Kalteng tidak sekadar berfungsi sebagai arsip dokumentasi bahasa daerah, melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan yang layak dikonsumsi publik.
Ia menambahkan, penyertaan terjemahan bahasa Indonesia dalam setiap buku bertujuan agar cerita-cerita berbahasa daerah tersebut tetap dapat dinikmati oleh masyarakat luas, termasuk mereka yang tidak menguasai bahasa daerah setempat.
“Penggunaan bahasa Indonesia sebagai terjemahan membuat cerita dalam buku dapat dinikmati masyarakat yang tidak menguasai bahasa daerah,” katanya.
Dorong Digitalisasi Buku
Rensi mengaku, Balai Bahasa Kalteng tidak ingin ratusan koleksi buku yang telah diterbitkan hanya tersimpan diam di rak-rak perpustakaan. Oleh karena itu, pihaknya secara aktif terus memperkenalkan koleksi tersebut kepada masyarakat luas.
“Buku sudah kita informasikan, jadi tidak hanya mengendap di perpustakaan tetapi juga dibuat digitalnya,” jelasnya.
Langkah digitalisasi ini, menurut Rensi, memungkinkan buku-buku dwibahasa tersebut menjangkau pembaca dari kalangan yang lebih luas. Masyarakat pun tidak perlu lagi datang langsung ke perpustakaan hanya untuk mengakses bahan bacaan yang memuat cerita dan bahasa daerah Kalimantan Tengah.
Dengan total koleksi yang kini mencapai 179 judul, Rensi menegaskan bahwa Balai Bahasa Kalteng memiliki sumber bacaan yang tidak hanya bernilai bagi peningkatan literasi masyarakat, tetapi juga berperan penting sebagai bagian dari dokumentasi kekayaan bahasa dan budaya daerah. (*/pri)






