PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Penyaluran bantuan pangan Presiden di Kota Palangka Raya mulai menyasar Kelurahan Palangka, Kecamatan Jekan Raya, Jumat (18/9/2026). Wilayah tersebut menjadi lokasi dengan jumlah penerima terbanyak kedua di Kota Palangka Raya setelah Kelurahan Pahandut.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Kalteng, Erwin Budiana, mengatakan sebanyak 2.262 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tercatat menerima bantuan pangan di Kelurahan Palangka.
“Hari ini merupakan hari pertama penyaluran untuk wilayah Kelurahan Palangka. Kelurahan Palangka ini menjadi penerima bantuan pangan terbanyak kedua di Kota Palangka Raya setelah Kelurahan Pahandut, dengan total penerima mencapai 2.262 KPM,” ujar Erwin.
Erwin mengatakan proses penyaluran pada hari pertama berlangsung tertib. Pihak kelurahan mengatur pengambilan bantuan secara bertahap dengan membagi penerima berdasarkan wilayah RW, yakni dua RW setiap hari. Dengan pola tersebut, Bulog menargetkan penyaluran di Kelurahan Palangka dapat diselesaikan dalam waktu lima hari.
Menurutnya, penyaluran bantuan pangan di Kota Palangka Raya memang baru dimulai dalam beberapa hari terakhir. Namun, Bulog memilih mendahulukan wilayah yang sulit dijangkau dan berada jauh dari pusat distribusi.
“Strategi kami adalah mendahulukan wilayah-wilayah yang sulit dan paling jauh atau remote area. Kami khawatir jika daerah terisolir dikerjakan di akhir, penyalurannya tidak selesai tepat waktu,” katanya.
Strategi tersebut dilakukan karena seluruh bantuan pangan ditargetkan harus tersalurkan 100 persen pada akhir September 2026. Hingga saat ini, realisasi penyaluran secara kumulatif di Provinsi Kalimantan Tengah baru mencapai sekitar 35 persen.
Erwin menjelaskan, rendahnya realisasi tersebut salah satunya dipengaruhi kendala distribusi akibat musim kemarau berkepanjangan. Sejumlah wilayah, khususnya Kabupaten Katingan dan Gunung Mas, mengalami penurunan debit air sungai yang berdampak terhadap jalur transportasi bantuan.
Jalur perairan yang biasanya dapat dilalui menggunakan perahu klotok kini mengalami pendangkalan bahkan mengering. Kondisi tersebut membuat pengiriman bantuan membutuhkan waktu dan upaya lebih besar.
Untuk wilayah yang sungainya benar-benar kering, Bulog terpaksa menggunakan sepeda motor sebagai sarana distribusi. Pengangkutan yang sebelumnya dapat dilakukan dalam volume besar harus dilakukan secara berulang.
Sementara pada jalur sungai yang masih dapat dilalui tetapi debit airnya menurun, kapasitas angkut perahu klotok juga dikurangi secara signifikan. Jika dalam kondisi normal mampu membawa sekitar 1–2 ton, kini hanya dapat mengangkut sekitar 100–200 kilogram dalam satu perjalanan.
“Memang ada yang kering sama sekali, akhirnya kita lansir menggunakan sepeda motor. Angkutan yang biasanya bisa membawa tonase besar terpaksa dilansir berulang kali,” jelas Erwin.
Meski menghadapi kendala distribusi tersebut, Bulog tetap optimistis seluruh bantuan pangan di Kalimantan Tengah dapat disalurkan sesuai target hingga akhir September.
Untuk periode kali ini, terdapat penambahan alokasi penerima bantuan pangan di Kalteng. Dari sebelumnya sekitar 207 ribu KPM, jumlah penerima bertambah sekitar 7 ribu sehingga total alokasi mencapai sekitar 212 ribu KPM.
Setiap KPM mendapatkan bantuan beras medium sebanyak 10 kilogram per bulan. Namun, dalam penyaluran kali ini bantuan diberikan sekaligus untuk alokasi tiga bulan, yakni Agustus, September dan Oktober, sehingga masing-masing penerima memperoleh 30 kilogram beras medium.
Erwin menegaskan Bulog dalam program tersebut bertindak sebagai operator yang menjalankan penugasan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Adapun data penerima bantuan mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dikeluarkan melalui Kemensos dan BPS untuk kemudian disampaikan kepada Bapanas. Penerima berada pada kategori Desil 1 hingga Desil 4.
Untuk teknis pembagian di lapangan, Bulog menyerahkan pengaturannya kepada pemerintah kelurahan atau desa sebagai titik pembagian. Pola pembagian dua RW per hari yang diterapkan di Kelurahan Palangka merupakan salah satu skema yang disesuaikan dengan kondisi wilayah dan pengaturan setempat. (daw)






