Palangka Raya, Kantamedia.com – Jumlah bayi lahir hidup di Kota Palangka Raya sepanjang 2025 tercatat meningkat menjadi 4.888 bayi. Namun di sisi lain, kasus bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) juga naik menjadi 61 kasus dari 54 kasus pada 2024.
Kepala BPS Kota Palangka Raya, Amos Adam Residul, mengatakan data tersebut menjadi gambaran penting kondisi kesehatan ibu dan anak di Kota Cantik. Menurutnya, statistik kesehatan diperlukan sebagai dasar penyusunan kebijakan yang tepat sasaran.
“Data ini memberikan gambaran kondisi kesehatan masyarakat, khususnya ibu dan anak. Statistik menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan dan mengevaluasi program kesehatan agar intervensi yang dilakukan semakin efektif,” katanya, Rabu (15/7/2026).
Berdasarkan data BPS, Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan jumlah kelahiran hidup terbanyak yakni 2.848 bayi. Disusul Kecamatan Pahandut 1.473 bayi, Sabangau 350 bayi, Bukit Batu 159 bayi, dan Rakumpit 58 bayi.
Untuk kasus BBLR, Jekan Raya juga mencatat jumlah tertinggi dengan 20 kasus. Selanjutnya Bukit Batu 17 kasus, Pahandut 16 kasus, Sabangau 5 kasus, dan Rakumpit 3 kasus.
Secara keseluruhan terdapat 61 bayi lahir dengan berat badan rendah pada 2025. Angka ini mengalami peningkatan dibanding 54 kasus pada 2024, 53 kasus pada 2023, 45 kasus pada 2022, dan 26 kasus pada 2021.
Data juga menunjukkan jumlah kasus gizi buruk pada 2025. Rinciannya 432 kasus di Jekan Raya, 282 kasus di Pahandut, 72 kasus di Bukit Batu, 64 kasus di Sabangau, dan 24 kasus di Rakumpit.
Amos menjelaskan, data statistik tersebut tidak hanya menggambarkan kondisi kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi acuan dalam perencanaan pembangunan daerah. Termasuk upaya percepatan penurunan stunting, peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta penguatan program gizi.
“Melalui data yang akurat, pemerintah dapat mengetahui wilayah yang membutuhkan perhatian lebih besar sehingga program kesehatan dapat disusun secara lebih terarah dan tepat sasaran,” tandasnya. (*/Fay)


