Hasan mengatakan, musim kemarau kerap menjadi periode rawan terjadinya karhutla yang dapat berdampak luas, baik bagi lingkungan maupun kesehatan masyarakat. Bahkan setiap tahun, wilayah Kota Palangka Raya selalu menghadapi ancaman karhutla saat kemarau.
“Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, sekecil apa pun itu,” tegasnya.
Hasan juga mengingatkan, bahwa kebakaran lahan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Termasuk kesehatan pernapasan.
Selain itu Hasan turut mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam penggunaan air, mengingat ketersediaan air bersih biasanya menurun saat musim kemarau. “Mulai sekarang biasakan hemat air. Gunakan air seperlunya untuk kebutuhan sehari-hari agar kita tidak mengalami kekurangan saat puncak kemarau nanti,” tambahnya.
Tidak lupa Hasan juga meminta pemerintah daerah bersama instansi terkait, untuk terus meningkatkan sosialisasi serta pengawasan di lapangan, khususnya di wilayah yang rawan terjadi kebakaran.
Diharapkan, dengan adanya kesadaran bersama dari seluruh elemen masyarakat, potensi karhutla di Kota Palangka Raya dapat diminimalisir, sehingga lingkungan tetap terjaga dan aktivitas warga tidak terganggu. “Peran masyarakat sangat penting. Kalau kita sama-sama menjaga, risiko karhutla bisa ditekan,” pungkasnya. (*/Fay)


