Politisi Partai Golkar ini menyebut sebagian besar kebutuhan pangan seperti beras, sayur, dan gula masih dipasok dari luar daerah dengan tingkat ketergantungan yang cukup tinggi.
“Diantaranya dipasok dari Banjarmasin, Sampit, hingga pulau Jawa. Kondisi ini perlu diantisipasi, karena ketergantungan sangat rentan membuat harga pangan bergejolak ketika distribusi terganggu,,” ungkapnya, Minggu (3/5/2026).
Harus disadari lanjut Khemal, selama ini gangguan distribusi bahan pangan yang dipasok dari luar kerap dipengaruhi beberapa faktor. Diantaranya cuaca maupun kondisi infrastruktur transportasi. Oleh karenanya ketika pasokan tersendat, maka harga kebutuhan pokok di tingkat pasaran biasanya ikut meningkat.
“Demikian juga ketika terjadi banjir yang menyebabkan pasokan distribusi bahan pangan jadi terhambat, maka akan menyebabkan kenaikan harga pangan,” jelasnya.
Disisi lain ungkap dia, persoalan distribusi ini juga kerap terjadi akibat dampak antrean bahan bakar minyak (BBM), dimana mempengaruhi biaya angkut yang berdampak pada harga di pasaran.
“Walaupun harga BBM tidak naik, antrean panjang membuat waktu distribusi bahan terhambat dan biaya operasional meningkat,” terangnya.
Terlepas dari itu Khemal memperkirakan, ketergantungan pasokan pangan khususnya Kota Palangka Raya terhadap luar daerah selama ini bisa mencapai sekitar 80 persen.
“Berkaca dari kondisi ini yang semestinya menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok,” tukasnya.
Karena itu ia mendorong pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk memperkuat ketahanan pangan. Salah satunya dari sektor pertanian lokal melalui penguatan produksi pangan.
“Terutama melalui dinas pertanian, untuk mencari solusi dalam meningkatkan kemandirian pangan. Minimal 40 persen kebutuhan pokok bisa dipenuhi dari dalam daerah,” sebut Khemal.
Ia menilai, penguatan produksi pangan lokal dapat menjadi langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Selain itu, upaya tersebut juga berpotensi membantu mengendalikan laju inflasi daerah.
Penguatan produksi panganlokal perlu dilakukan melalui optimalisasi lahan, dukungan kepada petani, serta inovasi pengelolaan pangan.
“Jika produksi dalam daerah diperkuat, maka ketahanan pangan akan lebih terjaga, dan inflasi serta kenaikan harga bisa lebih terkendali, sekalipun muncul berbagai gangguan distribusi,” pungkas Khemal. (*/Fay)


