PALANGKA RAYA, kantamedia.com – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mendorong pembangunan sumur bor dengan jarak antartitik sekitar 60 hingga 100 meter di kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat sistem pembasahan gambut sekaligus mencegah kebakaran berulang pada musim kemarau mendatang.
Usulan itu disampaikan Hanif saat melakukan peninjauan lapangan di lokasi ketiga, Jalan Matal, Kelurahan Sabaru, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Jumat (30/10/2026). Menurutnya, kawasan rawan kebakaran perlu dipetakan berdasarkan grid atau petak-petak tertentu agar kebutuhan infrastruktur sumber air dapat dihitung secara lebih terarah.
“Sementara itu, lokasi-lokasi yang sudah ada perlu dipetakan dan dilengkapi berdasarkan grid atau petak-petak tertentu. Jadi, setiap jarak 60 hingga 100 meter harus tersedia satu sumur yang perlu dibangun,” ujar Hanif.
Ia menjelaskan, pembangunan sumur bor tersebut bukan hanya ditujukan untuk mengatasi kebakaran yang masih berlangsung, tetapi juga mempersiapkan sistem pengendalian karhutla secara lebih permanen. Dengan ketersediaan sumber air yang lebih merata, petugas dapat melakukan pembasahan ketika muncul titik panas maupun asap di kawasan gambut.
Hanif menekankan bahwa pembasahan tidak dapat hanya mengandalkan kanal atau saluran air. Infrastruktur tersebut perlu dikombinasikan dengan penyemprotan langsung oleh tim di lapangan karena sumber air terkadang hanya tersedia di titik-titik tertentu.
“Penanganan harus mengombinasikan pembasahan melalui infrastruktur pengairan dengan penyemprotan langsung oleh tim di lapangan,” jelasnya.
Selain mengoptimalkan sumur bor yang telah tersedia, pihaknya juga mendorong penerapan sistem drip atau pengaliran air langsung dari sumur bor menuju lokasi yang membutuhkan pembasahan. Skema tersebut dinilai dapat mempercepat distribusi air tanpa harus menunggu seluruh kawasan tergenang.
Untuk mendukung pembangunan infrastruktur tersebut, Hanif menyebut sumber pendanaan berpotensi berasal dari sektor perkebunan, kehutanan, dan pertambangan. Namun, menurutnya, langkah pertama yang harus disiapkan adalah desain teknis penanganan beserta tata kelola pelaksanaannya.
Ia berharap sistem pembasahan yang dibangun di Kalimantan Tengah dapat menjadi upaya jangka panjang, sehingga penanganan karhutla pada tahun-tahun berikutnya tidak selalu dimulai dari kondisi darurat. (daw)






