Ini Dampak Negatif Populasi Ikan Sapu-sapu Tak Terkendali

Kantamedia.com – Sejak beberapa waktu terakhir, ikan sapu-sapu sedang menjadi sorotan lantaran ramai dibasmi di berbagai daerah, salah satunya di Jakarta. Ledakan populasi ikan sapu-sapu yang kian tak terkendali, disebut mengancam eksistensi fauna endemik dan merusak keseimbangan biotik sungai-sungai lokal.

Dalam operasi besar-besaran yang digelar di lima wilayah administrasi Jakarta, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) berhasil menjaring sedikitnya 68.880 ekor ikan sapu-sapu. Total bobot dari hasil pembasmian massal tersebut mencapai angka fantastis, yakni 6,98 ton hanya dalam kurun waktu satu hari.

Mengapa ikan sapu-sapu dimusnahkan?

Ikan dengan nama ilmiah Pterygoplichthys pardalis ini merupakan organisme introduksi asal Amerika Selatan. Meskipun tampak pasif, spesies ini memiliki kemampuan adaptasi yang ekstrem. Pakar Akuakultur dari Universitas Airlangga (Unair), Dr. Veryl Hasan, menjelaskan bahwa karakteristik biologis ikan ini menjadi bumerang bagi ekosistem di Indonesia.

Secara morfologi, tubuh mereka dilindungi sisik keras dengan struktur kepala pipih dan mulut penghisap yang kuat di bagian abdomen. “Keunikan utamanya adalah daya tahan. Spesies ini sanggup bertahan di perairan air tawar maupun payau, bahkan tetap hidup di sungai yang mengering karena mampu menyerap oksigen melalui kulit,” ungkap Dr. Veryl. Lebih mengkhawatirkan lagi, ikan sapu-sapu dapat bertahan hingga 30 jam di luar air selama perutnya menyimpan cadangan oksigen yang cukup.

Baca juga:  CEO Hermès Geram: Reseller Rusak Ekosistem Eksklusif Tas Birkin

Persoalan utama bukan sekadar keberadaannya, melainkan sifat invasifnya yang agresif. Sebagai pemakan segala atau omnivora, mereka melahap tumbuhan air hingga organisme mikro yang seharusnya menjadi sumber pangan ikan lokal. Ketahanan mereka terhadap polusi berat membuat spesies asli yang sensitif terhadap kualitas air perlahan mati dan punah, menyisakan dominasi mutlak bagi si “ikan pembersih” ini.

“Di luar habitat aslinya, pemangsa alami mereka hampir tidak ada. Akibatnya, populasi tumbuh tanpa hambatan dan menggeser keberadaan ikan lokal melalui persaingan ruang dan nutrisi,” tambahnya.

Ikan ini sangat mudah beradaptasi, baik di air tawar maupun air payau. Ikan ini bahkan mampu bertahan hidup di sungai yang mengering, berkat kemampuannya bernapas melalui kulit dan menggeliat untuk mencari tempat tinggal baru. Ikan jenis ini juga mampu hidup hingga 30 jam di luar air jika memiliki cadangan oksigen yang cukup di perutnya.

Baca juga:  CEO Hermès Geram: Reseller Rusak Ekosistem Eksklusif Tas Birkin

Dalam satu siklus, seekor ikan sapu-sapu betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun. Melansir dari laman IPB University, ikan sapu-sau mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil (23,9-28,99 cm untuk jantan dan 13,0-25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus invasi.

Mengapa ikan sapu-sapu bisa mengancam ekosistem?

Ikan sapu-sapu (sering disebut juga pleco) memang dikenal sebagai pembersih akuarium, tetapi di alam liar justru bisa menimbulkan berbagai dampak negatif, terutama ketika menjadi spesies invasif. Berikut alasannya:

1. Merusak ekosistem perairan

Ikan sapu-sapu seperti Hypostomus plecostomus dapat berkembang biak dengan cepat dan mendominasi habitat. Mereka memakan alga dan organisme kecil yang juga menjadi sumber makanan bagi ikan lokal, sehingga mengganggu keseimbangan rantai makanan.

Baca juga:  CEO Hermès Geram: Reseller Rusak Ekosistem Eksklusif Tas Birkin

2. Menggeser populasi ikan lokal

Karena daya tahan tubuhnya tinggi dan adaptif, ikan ini sering mengalahkan ikan asli dalam perebutan makanan dan tempat hidup. Akibatnya, populasi ikan lokal bisa menurun drastis.

3. Merusak tebing sungai dan danau

Ikan sapu-sapu memiliki kebiasaan menggali lubang di tepian sungai untuk bertelur. Aktivitas ini dapat menyebabkan erosi, membuat tebing sungai menjadi rapuh dan mudah longsor.

4. Nilai ekonomi rendah

Berbeda dengan ikan konsumsi seperti nila atau lele, ikan sapu-sapu jarang dimanfaatkan sebagai bahan pangan karena dianggap kotor dan rasanya kurang diminati. Hal ini membuat keberadaannya tidak memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

5. Membawa penyakit atau parasit

Sebagai spesies yang menyebar luas, ikan ini berpotensi membawa parasit atau penyakit yang bisa menular ke ikan lain di perairan yang sama.

6. Sulit dikendalikan

Populasinya yang cepat meningkat membuat ikan sapu-sapu sulit diberantas. Upaya pengendalian sering membutuhkan biaya dan tenaga besar.

(*/pri)

TAGGED:
Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *