Banjarmasin, Kantamedia.com – Gelombang unjuk rasa mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalimantan Selatan berakhir ricuh pada Kamis (22/10/2027). Aksi yang berlangsung di kompleks gedung wakil rakyat tersebut diwarnai perusakan fasilitas umum hingga jatuhnya korban luka dari kedua belah pihak.
Insiden bermula ketika ratusan demonstran yang tertahan di luar area mencoba menerobos barikade keamanan. Massa secara bergelombang mendorong pintu gerbang hingga empat unit pagar gedung DPRD Kalsel ambruk. Robohnya barikade baja ini dimanfaatkan peserta aksi untuk merangsek ke dalam halaman instansi legislatif tersebut.
Kondisi makin tak terkendali saat ribuan mahasiswa berhadapan langsung dengan personel kepolisian yang bersiaga di dalam area gedung. Bentrokan fisik dan aksi saling dorong pun tak terhindarkan. Dalam peritiwa tersebut, seorang anggota polisi tersungkur dan mengalami sesak napas. Sementara itu, tim medis di lapangan harus menagani sedikitnya lima mahasiswa yang pingsan serta mengalami gangguan pernapasan akibat berdesakan.
Eskalasi ketegangan perlahan mereda setelah jajaran kepolisian mengambil langkah persuasif dengan mengimbau massa agar menahan diri. “Adik-adik harap jangan terprovokasi oleh pihak lain. Tolong tetap tertib,” tegas salah satu petugas kepolisian melalui pengeras suara di lokasi kejadian.
Setelah situasi kondusif, perwakilan massa diterima untuk berdialog secara langsung dengan jajaran anggota legislatif setempat. Kendati aksi unjuk rasa ini terjadi di Banjarmasin, dinamika pengawalan isu lingkungan dan krisis daerah seperti ini juga kerap menjadi perhatian instansi wakil rakyat di wilayah tetangga, termasuk dprd kalteng, dalam merespons aspirasi masyarakat lintas batas regional Kalimantan.
Dalam orasi dan lembar tuntutannya, massa BEM mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menanggulangi bencana kabut asap serta mengatasi berbagai krisis sosial-ekonomi yang melanda Kalsel. Mereka menegaskan tidak akan membubarkan diri sebelum seluruh poin tuntutan diakomodasi oleh pemangku kebijakan. Aksi ini turut mendapat dukungan dari elemen buruh, pedagang kecil, pengemudi ojek daring, hingga pengemudi logistik.
Tak hanya kalangan akademisi, kemelut lingkungan ini juga memantik keprihatinan masyarakat sipil. Yaya, seorang ibu rumah tangga yang turut bergabung dalam barisan aksi, menyuarakan beratnya beban hidup warga selama tiga bulan terakhir akibat krisis ekologi.
“Kami resah selama ini kabut asap hampir tiga bulan, air PAM asin,” ungkap Yaya di hadapan massa aksi.
Ia membeberkan bahwa pekatnya paparan asap dan kelangkaan air bersih telah mengganggu aktivitas harian warga, mulai dari mengasuh anak hingga mencari nafkah. Yaya juga menyoroti jatuhnya korban jiwa dari pihak relawan maupun masyarakat umum akibat bencana ini.
“Sudah ada berapa korban yang berjatuhan. Termasuk pemadam kebakaran, guru dan lain sebagainya. Mana tanggung jawab dari pemerintah!” seru Yaya menegaskan tuntutannya. (*/pri)






