Panduan IDAI Untuk Melindungi Anak dari Ancaman Kabut Asap Karhutla

Kantamedia.com — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, tak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan kabut asap akibat bencana tersebut.

Merespons kondisi darurat ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merilis sejumlah rekomendasi strategis untuk melindungi kesehatan fisik dan tumbuh kembang anak dari polusi udara ekstrem. Rekomendasi itu diunggah lewat akun Instagram resmi IDAI, memuat sejumlah langkah yang bisa diterapkan masyarakat guna menjaga kesehatan anak di tengah kabut asap akibat karhutla yang terus meluas.

Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

Langkah utama yang disarankan IDAI adalah meminimalkan interaksi langsung anak dengan udara luar. Selama krisis kabut asap berlangsung, anak-anak dianjurkan tetap beraktivitas di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup rapat. Penggunaan pendingin ruangan bermode sirkulasi tertutup serta alat pemurni udara (air purifier) juga sangat dianjurkan, sementara aktivitas dalam rumah yang berpotensi menambah polusi indoor sebaiknya dihentikan sementara.

Bagi anak dengan risiko tinggi, IDAI menyarankan opsi pemindahan sementara ke wilayah berudara lebih bersih. Jika anak terpaksa beraktivitas di luar atau terpapar asap pekat, penggunaan masker respirator N95 menjadi wajib karena mampu menyaring hingga 95 persen partikel mikro berukuran 0,3 mikron. Masker harus terpasang rapat dan diganti rutin saat kotor, meski perlindungan ini tetap bersifat sementara.

Siapkan Kesiapan Medis dan Evakuasi

IDAI mengingatkan pentingnya ketersediaan obat rutin seperti antiinflamasi steroid dan bronkodilator bagi anak dengan riwayat penyakit pernapasan, dengan catatan penggunaannya harus sesuai indikasi dan pengawasan dokter. Suplementasi oksigen pun perlu mengikuti petunjuk medis, sebab tidak akan optimal jika lingkungan sekitar masih terkontaminasi polusi berat.

Ketika kualitas udara sudah membahayakan, evakuasi terorganisir menjadi opsi mendesak, terutama bagi anak dengan penyakit kronis, kebutuhan medis khusus, atau disabilitas.

IDAI merekomendasikan perbekalan darurat untuk kebutuhan minimal lima hari, mencakup obat rutin, masker cadangan, air bersih, bahan makanan, dokumen penting, dan alat bantu khusus. Tempat penampungan sementara pun harus memenuhi standar aman, berudara bersih, mudah diakses, dan ramah anak.

Jika kondisi kesehatan anak memburuk selama masa darurat, rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai harus segera dilakukan. IDAI menegaskan penanganan bencana ini perlu berlanjut hingga tahap pascaevakuasi, termasuk memastikan reunifikasi keluarga berjalan lancar dan pemberian dukungan psikologis untuk memulihkan trauma anak. (*/pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *