Bulan Sejuta Umat

Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd

MARHABAN ya Ramadan, salah satu bulan yang diistimewakan dan sering dirindukan oleh semua kalangan tanpa harus memandang kasta, martabat, suku, , ras, dan keimanan yang dianut sebagai bentuk kepercayaan.  Istimewanya bulan ramadan karena selalu menghadirkan banyak kebaikan yang tidak hanya bisa dirasakan oleh orang muslim saja, akan tetapi kebaikan bulan ramadan bisa dirasakan oleh semua agama yang diakui oleh Negara Indonesia. Sehingga bulan ramadan menjadi salah satu bulan yang sangat dirindukan akan kedatangannya oleh sejuta umat.

Bentuk dari toleransi antar umat beragama, terpampang nyata ketika bulan ramadan tiba. Orang-orang akan saling menghargai dan menghormati tanpa adanya paksaan dan dorongan dari sekelompok orang yang bisa memicu perdebatan. Kehidupan antarumat beragama terasa sejuk di dalam jiwa, semua karena berkahnya bulan ramadan yang membuat kehidupan menjadi aman, nyaman, dan tentram. Itulah sebabnya bulan ramadan disebut sebagai bulan sejuta umat.

Baca juga:
BPOM Sebut Telah Bina Para Pedagang sebelum Pasar Ramadan di Palangka Digelar

Bulan ramadan juga bisa dibilang dengan bulan kemanusiaan, bulan dimana semua umat muslim menahan rasa lapar dan haus, menahan rasa emosi, menahan amarah penuh dengki, menghilangkan rasa dendam, memperkuat rasa toleransi antar sesama umat beragama, serta belajar memanusiakan manusia layaknya manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang paling mulia. Indahnya bulan ramadan harus bisa diterapkan di bulan-bulan lainnya, agar kehidupan menjadi jauh lebih berguna, karena sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bisa berguna bagi manusia lainnya.

Di setiap Bulan ramadan orang-orang akan saling berlomba-lomba untuk menebar kebaikan, seperti bersedekah, membagi makanan untuk berbuka dan sahur, serta  berkeliling untuk mencari orang-orang yang memang membutuhkan pertolongan. Karena di setiap kebaikan yang kita berikan akan dilipat gandakan oleh Sang Maha Pencipta Alam. Kebiasaan seperti inilah yang menjadi ciri khas dari bulan suci ramadan, sehingga pandangan orang non muslim terhadap orang yang menjalankan ibadah puasa sangat baik dan melekat di hati mereka.

Bulan ramadan adalah bulan yang bisa kita jadikan sebagai bulan renungan dan perbaikan kualitas iman, ihsan, dan . Bulan dimana orang-orang merasa malu dan takut untuk berbuat buruk. Meskipun ada sebagian orang yang memang tidak punya rasa malu untuk berbuat buruk di bulan suci ini. Bulan ramadan harus benar-benar dijadikan sebagai bulan perbaikan, baik secara jasmani maupun rohani. Setiap keburukan yang pernah kita perbuat harus diperbaiki di bulan suci ini. Jangan sampai, keburukan itu terus bersemayam di dalam kehidupan tanpa adanya perubahan kearah yang jauh lebih baik lagi.

Baca juga:
Toleransi Umat Beragama Terhadap Budaya Bangsa

Bagi sebagian orang, bulan ramadan menjadi bulan yang dapat mengingatkan akan rasa kehilangan orang-orang tersayang. Ingatan akan berbuka dan sahur bersama, menyambut bersama, serta bersilaturahmi dengan sanak saudara  tercinta. Namun ketika orang-orang tercinta tersebut sudah pergi untuk selamanya, maka rasa sedih akan muncul secara tiba-tiba. Mungkin kebanyakan orang beranggapan bahwa rasa sedih akan kehilangan bisa sembuh bahkan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Akan tetapi, semua itu hanya sebuah anggapan dari orang-orang yang ingin menguatkan hatinya. Pada nyatanya, rasa sedih akan kehilangan tidak bisa disembuhkan dengan berjalannya waktu. Hanya saja, rasa sedih terhadap kehilangan akan digantikan dengan orang-orang baru yang juga membawa kenangan indah penuh .

Baca juga:
Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan Jatuh Pada 11 Maret 2024

Selamat menunaikan ibadah bulan puasa tahun 1445 Hijriyah, semoga kebaikan dan keberkahannya selalu menyertai kehidupan kita semua tanpa harus memandang agama, suku, ras, budaya, dan perbedaan lainnya. (*)


(Insan Faisal Ibrahim, S.Pd. Instagram: @innsanfaisal, Bayongbong Garut, )

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke redaksi@kantamedia.com disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

TAGGED:
Bagikan berita ini