Pelarian 7 Bulan Oknum Guru Cabul di Seruyan Berakhir di Kalbar

Kantamedia.com – Setelah buron sekitar tujuh bulan, oknum guru berinisial F yang diduga mencabuli tujuh siswi sekolah dasar (SD) di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah (Kalteng), akhirnya ditangkap polisi di Kalimantan Barat.

F diringkus Tim Resmob Polres Seruyan bersama Satreskrim Polres Sukamara di Kecamatan Manismata, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Rabu (4/11/2026). Selama dalam pelarian, ia diketahui menyamarkan identitas dan menyambung hidup dengan berjualan ikan.

Kasi Humas Polres Seruyan Aipda Ronny, Sabtu (7/11/2026), menyatakan keberadaan F terlacak setelah penyelidikan lintas daerah yang berlangsung berbulan-bulan. Petugas mendapati terduga pelaku bersembunyi di rumah milik keluarganya di kawasan perumahan karyawan perusahaan perkebunan.

“Terduga pelaku yang masuk DPO telah berhasil kami amankan di wilayah Kalimantan Barat. Kami mengapresiasi kerja sama seluruh pihak dan mengimbau orang tua untuk segera melapor apabila mengetahui adanya dugaan kekerasan terhadap anak,” ujar Ronny.

Dalam pemeriksaan awal, F diduga mengakui perbuatannya terhadap tujuh siswi. Penyidik masih mendalami kasus ini untuk memastikan ada tidaknya korban lain.

Bermula dari Pengakuan Seorang Siswi

Menurut Ronny, kasus asusila oknum guru ini pertama kali terungkap pada Rabu (1/4/2026). Awalnya, seorang siswi menolak berangkat sekolah keesokan harinya dan mengaku kepada orang tuanya bahwa ia takut kepada gurunya.

Saat ditanya lebih lanjut, korban menceritakan dugaan perlakuan tidak pantas yang dialaminya di dalam kelas. Ia juga menyebut beberapa temannya diduga mengalami hal serupa.

Orang tua korban lalu melaporkan hal itu ke Polres Seruyan. Namun, setelah laporan diterima, F menghilang. Polisi pun menetapkannya sebagai daftar pencarian orang (DPO) dan memburunya.

Seusai ditangkap, F dibawa bersama barang bukti ke Polsek Danau Sembuluh untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut.

Polisi mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan perubahan perilaku anak, misalnya mendadak takut berangkat sekolah, enggan bertemu seseorang, atau bersikap tidak seperti biasanya.

“Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak dinilai penting agar anak merasa aman untuk menceritakan pengalaman yang dialaminya. Masyarakat dan pihak sekolah juga diharapkan bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang aman serta bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap anak,” pungkas Ronny. (pri)

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *