Asal Mula Riam Batu Balang, Kisah ‘Bandung Bondowoso’ Kalteng

Kantamedia.com – Legenda Batu Balang adalah cerita rakyat dari daerah Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, yang mengisahkan kegagalan seorang pemuda sakti bernama Darung Bawan akibat perhitungan yang tidak matang dalam membangun riam di alur Sungai Katingan, Desa Talian Kereng.

Sekilas, alur kisah legenda Batu Balang ini mengingatkan kita pada legenda Roro Jonggrang di Jawa Tengah atau Sangkuriang di Jawa Barat.

Nama Batu Balang yang sebenarnya ialah Batu Riam Balang, yaitu batu-batu yang disusun sedemikian rupa untuk membentuk sebuah riam, namun belum selesai pengerjaannya (balang).

Dikutip dari buku Legenda Dan Dongeng Dalam Sastra Dayak Ngaju (1998) terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Legenda Batu Balang menceritakan kisah bidadari jelita dari pedukuhan tersembunyi bernama Kameloh Buang Penyang, dan pemuda sakti dari puncak Bukit Raya, Darung Bawan.

Pada zaman dahulu kala di sekitar aliran Sungai Katingan, hiduplah seorang kakek bijaksana bernama Tayung. Ia merasa sangat sedih dan resah melihat perilaku penduduk di desa asalnya yang sering bertengkar, mabuk-mabukan, dan berjudi.

Oleh karena itu, Tayung memutuskan untuk pindah ke tengah hutan rimba dan membangun sebuah permukiman baru yang damai bernama Talian Kereng. Tempat ini sangat tersembunyi, sehingga jarang ada orang luar yang bisa menemukannya.

Suatu hari, Tayung mendapat firasat buruk mengenai cucu perempuannya yang masih tinggal di desa lamanya. Benar saja, cucunya tersebut rupanya baru saja menjadi yatim piatu dan hidup sebatang kara. Pada malam itu juga, Tayung diam-diam menjemput sang cucu dan membawanya tinggal di Talian Kereng.

Cucu kesayangannya itu bernama Kameloh Buang Penyang. Dirawat dengan penuh kasih sayang, Kameloh tumbuh menjadi gadis yang sangat jelita.

Saking cantiknya, pesona Kameloh sering diibaratkan seperti bidadari yang turun dari kayangan. Kabar mengenai kecantikannya ini perlahan-lahan menyebar luas, menembus batas pedukuhan yang tersembunyi tersebut.

Kabar ini akhirnya terdengar oleh Darung Bawan, seorang pemuda sakti bertubuh besar yang tinggal jauh di puncak Gunung Bukit Raya. Mendengar desas-desus tentang gadis cantik di Talian Kereng, ia pun bertekad kuat untuk menjadikannya istri. Berbekal kesaktian dan keberanian yang pantang mundur, ia berjalan kaki menyusuri tepi sungai untuk mencari keberadaan Kameloh.

Karena Talian Kereng adalah pedukuhan yang seolah ditutupi oleh tabir gaib, awalnya Darung Bawan kesulitan menemukan wujud asli rumah tersebut. Namun, dengan kesaktiannya, ia memejamkan mata dan melangkah penuh keyakinan. Begitu membuka mata, ia sudah berdiri di dalam sebuah rumah betang yang megah, tempat Kameloh dan kakeknya tinggal.

Darung Bawan adalah sosok pria yang berterus terang. Setelah dipersilakan duduk, ia langsung mengutarakan niatnya untuk meminang Kameloh. Di sisi lain, Kameloh sebenarnya merasa ragu dan gentar. Darung Bawan memiliki tubuh yang amat tinggi dan besar, sangat berbeda dengan dirinya yang mungil.

Untuk menolaknya secara halus, Kameloh mengajukan sebuah syarat yang dirasa mustahil. Ia meminta Darung Bawan untuk membuatkan jeram batu atau riam di tengah Sungai Katingan, dengan batas waktu hanya sejak matahari terbenam hingga sebelum ayam berkokok pada waktu subuh.

Karena merasa sakti, Darung Bawan menyanggupi syarat tersebut. Begitu matahari mulai terbenam, ia segera bekerja keras. Ia bolak-balik dari Bukit Raya ke sungai, mengangkut batu-batu besar dan menyusunnya di tengah derasnya aliran Sungai Katingan.

Pekerjaannya sangat cepat, tumpukan batu itu sudah mulai meninggi dari tengah menuju ke tepi. Akan tetapi, menjelang tengah malam, rasa kantuk dan lelah yang luar biasa tiba-tiba menyerang Darung Bawan.

Padahal, seumur hidupnya, pria sekuat dia tidak pernah merasa seletih itu. Akhirnya, ia tidak kuasa menahan kantuk dan tertidur pulas di pinggir sungai.

Ketika matahari terbit pada keesokan harinya, ia baru terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Menyadari hari sudah pagi, ia menatap susunan batu yang belum selesai. Waktunya telah habis, dan ia dipastikan gagal memenuhi syarat dari Kameloh.

Meskipun memiliki kesaktian yang luar biasa, Darung Bawan berjiwa ksatria. Ia mendatangi Kameloh dan dengan jujur mengakui kegagalannya tersebut. Sebelum melangkah pergi untuk kembali ke puncak Bukit Raya, ia menitipkan sebuah pusaka bernama Lalang Tiruk yang berisi emas. Pusaka itu diberikan untuk membantu kehidupan Kameloh kelak.

Darung Bawan juga meninggalkan sebuah pesan sekaligus sumpah. Ia berucap bahwa kelak dukuh tersebut akan berkembang menjadi desa yang ramai. Namun, siapa pun yang datang menyusuri daerah itu akan selalu terkenang dan tidak bisa berhenti memikirkannya, jika mereka tidak mandi atau meminum air dari riam batu tersebut.

Hingga saat ini, tumpukan batu yang gagal disusun menjadi jeram itu tetap berada di tempatnya dan dikenal dengan nama Riam Batu Balang, yang artinya susunan batu yang batal atau gagal diselesaikan. (*/pri)

Catatan Redaksi:
Kantamedia.com menerima tulisan cerpen, puisi dan opini dari masyarakat luas. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke redaksi@kantamedia.com disertai dengan tanda pengenal dan foto diri.

Bagikan berita ini
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *